Minggu, 16 November 2014

Ranger Lelang

Namaku adalah Adlin Yunila Sari, salah satu peserta SM-3T angkatan 2012/2013 yang ditempatkan di Maluku Barat Daya atau di singkat menjadi MBD. Tepatnya di pulau Sermata, Kecamataan Mdona Hyera, desa Lelang. Mendengar desa Lelang, seperti kata “pelelangan” di toko penggadaian. Namun yang paling mengejutkan adalah tidak ada sinyal disana alhasil handpone-ku menjadi gantungan kunci selama satu tahun, karena memang ditugaskan selama setahun. Selain itu Lelang dengan Surabaya berbeda jauh, bagaikan bumi dan langit. Bagaimana tidak, di Surabaya fasilitas ada dan lengkap, sedangkan di Lelang serba sangat amat terbatas. Bukannya berlebihan tapi memang itu yang aku alami, tidak ada signal, listrik, air terbatas kalau musim kemarau, makan seadanya, tidak ada kendaraan. Alat transportasi yang bisa pakai hanya perahu saja, karena di pulau Sermata tidak ada jalan beraspal, dan curam sehingga hanya bisa di lalui dengan jalan kaki. Itulah yang dirasakan murid-muridku ketika berangkat kesekolah.
Mereka harus berjalan kaki, setapak demi setapak tanpa alas kaki sambil hanya membawa satu buku tulis yang di masukkan di saku celana bagian belakang. Mereka berjalan pukul 4 pagi karena perjalanan dari rumah mereka ke sekolah sekitar 2 jam, sedangkan sekolah masuk pukul 6.30 pagi, ”hmmm, hebat!!” gumamku karena terpesona semangat belajar mereka. Beda dengan murid di Surabaya yang selalu membawa motor ataupun mobil meski sekolah mereka dekat, namun mereka seperti berlomba-lomba untuk membolos dan terlambat tersirat tidak bersemangat sekolah.
Jika di Jawa banyak Guru BK di sekolah SMP dan SMA, tapi di Lelang tidak ada, dan percayalah aku adalah guru BK di Pulau Sermata untuk pertama kalinya. Sungguh ada terbesit senang dan bangga, namun juga tersebit rasa sedih yang menjalar di hatiku, karena mereka tidak tahu tentang Bimbingan Konseling. Bahkan mereka berkata “ buat apa guru BK disini? Katong1 seng2 butuh. Yang penting guru pelajaran lain sa3. Katong ingin anak-anak di didik seperti anak-anak di Jawa!!”, sakit sekali mendengarnya namun aku tetap memamerkan senyum indahku sepertinya selama aku kuliah di Unesa keribadianku dibentuk dengan baik, sehingga aku tahu bagaimana bersikap yang baik depan masyarakat.
“Bapak ibu, kalau memang ingin anak-anak di didik seperti anak-anak di Jawa, maka tidak hanya guru mata pelajaran saja mengajarkan anak-anak disini. Guru BK-pun juga punya andil besar disini, yaitu membina anak-anak disini menjadi lebih baik lagi seperti anak-anak di jawa. Berilah saya kesempatan untuk membina anak-anak kalian selama satahun disini”, ucapku dengan senyuman yang tulus.
Mulai hari itulah kegiatanku sebagai Guru BK di SMPN 2 Mdona Hyera di mulai. Anak-anak terlambat, membolos dan nakal aku tangani. Tidak hanya di SMP saja, di SMAN 1 Mdona Hyera aku membina siswa siswi dsana sebagai guru BK, hal ini dikarenakan hanya ada kepala sekolah, maklum sekolah itu baru di buka setahun yang lalu dan siswanya hanya sepuluh orang saja, sedangkan siswa di SMP hanya dua puluh orang saja, miris bukan. Tetapi aku tidak pantang menyerah. Aku pelajari data-data murid di SMP dan SMA ternyata banyak siswa yang tidak masuk sekolah berbulan-bulan tanpa di ketahui alasan mereka apa, dan itu sudah hal yang wajar bagi mereka namun tidak tidak bagiku. Setelah aku bertanya kepada kepala sekolah, ternyata mereka memang sengaja membolos untuk bekerja. Anak seusia mereka harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga padahal sekolah disana gratis. Sehingga aku berpikir melakukan konseling dengan wali murid.
Akhirnya dengan bantuan kepala sekolah, konseling bisa di laksanakan. Berbagai pendapat dan alasan dari wali murid aku dengarkan dengan baik, seolah-oleh mereka curhat tentang perekonomian rumah tangga mereka dan aku selalu memamerkan senyumku serta menjadi pendengar setia.  Akupun menarik kesimpulan bahwa mereka mengganggap hidup itu bekerja untuk mencari uang sedangkan sekolah hanya untuk mengajari mereka cara berhitung dan membaca setelah itu mereka tidak memperbolehkan anak-anak mereka sekolah walaupun sekolah gratis.
Aku yang sedari tadi diam mendengarkan dan tersenyum manis mulai berbicara, memberikan penjelasan bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan depan anak-anak mereka, bahkan dengan pendidikan itu pula anak-anak mereka mendapat pekerjaan yang layak dan lebih baik dari pada bekerja cari ikan di laut ataupun mengasarkan kelapa agar dijual dan mendapatkan uang untuk perut mereka. Mereka mendengarkan setiap perkataanku dengan baik dan tak jarang mereka sambil menganggukkan kepala pertanda mereka mengerti ucapanku. Setelah konseling itu wali murid memperbolehkan anak-anaknya sekolah. Yang awalnya hanya 20 orang sekarang menjadi 57 orang. Sedangkan yang SMA yang awalnya 10 orang menjadi 20 orang. Meski tidak sebanyak murid yang di Jawa, paling tidak ada peningkatan dan inilah awal mulainya pengabdianku.
Selain menjadi guru BK di SMA dan SMP, aku juga mengajar mata pelajaran yang lain, seperti mulok, senibudaya, fisika, sosiologi, ppkn, dan biologi. Jabatan wakasek kesiswaan juga diberikan kepada mengingat aku adalah guru BK, tapi aku tetap menjalankan tugasku menjadi guru BK.
Ketika aku mengajar di SMA, aku sering menggunakan bimbingan kelompok untuk memberikan pelajaran kecuali fisika biasanya aku menggunakan bimbingan klasikal karena fisika adalah IPA dan berkutat pada angka. Bila di masyarakat aku memberikan pengarahan ketika peringatan hari Kartini. Memberikan pengarahan dan pengertian tentang kewajiban dan hak seorang wanita.
Tak jarang orang tua murid datang kerumah dinasku untuk sekedar curhat mengenai masalah anak-anaknya. Konsultasi tentang perkembangan anaknya, bagaimana anaknya di sekolah, mereka juga sering mengeluh bila anaknya nakal. Tapi itu semua aku balas dengan senyuman dan memberikan pengertian serta arahan untuk anaknya, di samping itu aku sangat senang karena usahaku tidak sia-sia selama ini. Yang mulanya orang tua tidak menghendaki adanya guru BK, yang apatis pada masa depan anaknya,dan hanya memikirkan materi, sekarang mulai berubah baik sedikit demi sedikit. Mereka sekarang lebih terbuka dengan adanya guru BK, lebih mementingkan pendidikan.
Dari sekian peristiwa yang aku ceritakan ada satu peristiwa yang sampai sekarang membekas di hatiku. Seorang anak dari desa sebelah, desa Batugajah, jaraknya 3 jam dari desa Lelang, dan itu harus ditempuh dengan jalan kaki. Dia tidak pernah terlambat sekolah, dia selalu rajin dan mendengarkan guru mengajar. Namun suatu hari dia tidak masuk sekolah seminggu, akhirnya aku melakukan kunjungan rumah atau home visit. Perjalanan begitu berat, berkali-kali aku istirahat karena selama di Jawa aku hampir tak pernah alan kaki, selalu naik motor kesayanganku, tapi di Maluku aku harus berjalan dengan waktu hampir  4 jam. Sesampainya disana, aku melihat dia sedang angkat air dari pegunungan. Ternyata dia tidak masuk sekolah karena harus merawat ibunya yang sedang sakit. Parahnya lagi dia tidak punya uang untuk berobat. Mendengar penjelasan dari dia, aku terenyuh, hingga aku putuskan untuk membiayai segala pengobatan ibunya sehingga dia bisa fokus belajar lagi, karena dia sekarang Kelas XII.

Hampir setahun aku di Maluku, Tepatnya di desa Lelang, beberapa hari lagi kami pulang ke Jawa karena masa penugasan kami telah selesai. Kami bersiap-siap membereskan barang-barang kami. Kamipun memberikan kenang-kenangan untuk anak-anak didik kami sebelum kami pergi jauh.
Hari itu tiba, untuk pulang ke Jawa, dengan naik kapal ke Kupang, dan naik pesawat ke Surabaya.  Kami pamit pada masyarakat disana, dan murid-murid kami tercinta. Namun ada seorang anak tengah berlari dengan nafas tersengal-sengal datang kepadaku. Akupun dengan senyum manisku menatapnya.

Grep..
Dia memelukku, baju bagian pundakku basah. Apakah dia menangis?
“Loi, ose4 pardede5?”, ucapku sambil mengelus rambutnya yang kriting dan panjang. Loi, itu nama panggilanku untuknya, sebenarnya nama lengkapnya adalah Novita Loimalitna.
“ Bu, jang6 pigi7. Beta8 seng ingin di ajar oleh guru lain.”, ucapnya sambil terisak. Hatiku ngilu mendengarnya.
Ose harus jadi anak yang pintar, nak. Raih cita-citamu sayang. Jadilah dokter yang baik. Jangan pernah berhenti belajar ya, Loi.”, ucapku dengan nada parau, karena berusaha menahan air mata.
Beta pasti turuti kata ibu, beta janji bu. Asal ibu seng usah balik lai9 ke Jawa. Nanti siapa yang nasehati beta lai bu? Siapa yang negur Beta kalau salah? Kalau bu Adlin balik ke Jawa.” Loi menangis sesenggukan. ‘oh Tuhan, sakitnya hati ini mendengar anak didikku menangis seperti ini.’ Gumamku dalam hati.
“Loi, seng bisa. Bu guru harus pulang karena masa tugas ibu guru dan bapak guru semua berakhir. Nanti ada pengganti ibu kok. Jadi Loi tenang saja. Oleh karena itu Loi harus semangat belajar, biar bisa jadi dokter. Setelah jadi dokter, Loi ke Jawa, ke tempat ibu buktikan kalau Loi berhasil dan membuat bangga ibu.”kataku sambil berusaha untuk tersenyum dan tegar di hadapannya dan dia menjawab dengan anggukan. Setelah berpelukan lama akhirnya aku dan teman-temanku naik kapal. Ketika aku naik kapal Loi berteriak dan berkata...
“ BU ADLIN ADALAH POWER RANGERS KAMI!!!!!!!”
Aku membalasnya dengan lambaian tangan mengarah padanya, tanpa terasa air mata yang kutahan dari kemarin akhirnya meluncur deras dipipiku.
“ kamu memang ranger Lelang, Dlin. Satu-satunya ranger BK di Lelang.” Kata salah satu temanku dengan senyuman tulusnya dan disusul teman-teman yang lain memeluk aku. Aku hanya bisa berdoa semoga murid-muridku menjadi generasi yang baik dan bisa menyaingi murid-murid di Jawa... amiin.


KETERANGAN:
Katong1           : bahasa maluku yang artinya kami
seng2                : bahasa maluku yang artinya tidak
sa3                   : bahasa maluku yang artinya saja
ose4                  : bahasa maluku yang artinya kamu
pardede5          : bahasa maluku yang artinya menangis
jang6                : bahasa maluku yang artinya jangan
 pigi7                : bahasa maluku yang artinya pergi
Beta8                : bahasa maluku yang artinya aku/saya
lai9                   : bahasa maluku yang artinya lagi

BY : Adlin yunila sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar