Namaku adalah Adlin
Yunila Sari, salah satu peserta SM-3T angkatan 2012/2013 yang ditempatkan di
Maluku Barat Daya atau di singkat menjadi MBD. Tepatnya di pulau Sermata,
Kecamataan Mdona Hyera, desa Lelang. Mendengar desa Lelang, seperti kata
“pelelangan” di toko penggadaian. Namun yang paling mengejutkan adalah tidak
ada sinyal disana alhasil handpone-ku
menjadi gantungan kunci selama satu tahun, karena memang ditugaskan selama
setahun. Selain itu Lelang dengan Surabaya berbeda jauh, bagaikan bumi dan
langit. Bagaimana tidak, di Surabaya fasilitas ada dan lengkap, sedangkan di Lelang
serba sangat amat terbatas. Bukannya berlebihan tapi memang itu yang aku alami,
tidak ada signal, listrik, air terbatas kalau musim kemarau, makan seadanya,
tidak ada kendaraan. Alat transportasi yang bisa pakai hanya perahu saja,
karena di pulau Sermata tidak ada jalan beraspal, dan curam sehingga hanya bisa
di lalui dengan jalan kaki. Itulah yang dirasakan murid-muridku ketika
berangkat kesekolah.
Mereka harus berjalan
kaki, setapak demi setapak tanpa alas kaki sambil hanya membawa satu buku tulis
yang di masukkan di saku celana bagian belakang. Mereka berjalan pukul 4 pagi
karena perjalanan dari rumah mereka ke sekolah sekitar 2 jam, sedangkan sekolah
masuk pukul 6.30 pagi, ”hmmm, hebat!!” gumamku karena terpesona semangat
belajar mereka. Beda dengan murid di Surabaya yang selalu membawa motor ataupun
mobil meski sekolah mereka dekat, namun mereka seperti berlomba-lomba untuk
membolos dan terlambat tersirat tidak bersemangat sekolah.
Jika di Jawa banyak Guru
BK di sekolah SMP dan SMA, tapi di Lelang tidak ada, dan percayalah aku adalah
guru BK di Pulau Sermata untuk pertama kalinya. Sungguh ada terbesit senang dan
bangga, namun juga tersebit rasa sedih yang menjalar di hatiku, karena mereka
tidak tahu tentang Bimbingan Konseling. Bahkan mereka berkata “ buat apa guru
BK disini? Katong1 seng2 butuh. Yang penting
guru pelajaran lain sa3.
Katong ingin anak-anak di didik seperti anak-anak di Jawa!!”, sakit sekali
mendengarnya namun aku tetap memamerkan senyum indahku sepertinya selama aku
kuliah di Unesa keribadianku dibentuk dengan baik, sehingga aku tahu bagaimana
bersikap yang baik depan masyarakat.
“Bapak ibu, kalau
memang ingin anak-anak di didik seperti anak-anak di Jawa, maka tidak hanya
guru mata pelajaran saja mengajarkan anak-anak disini. Guru BK-pun juga punya
andil besar disini, yaitu membina anak-anak disini menjadi lebih baik lagi
seperti anak-anak di jawa. Berilah saya kesempatan untuk membina anak-anak
kalian selama satahun disini”, ucapku dengan senyuman yang tulus.
Mulai hari itulah
kegiatanku sebagai Guru BK di SMPN 2 Mdona Hyera di mulai. Anak-anak terlambat,
membolos dan nakal aku tangani. Tidak hanya di SMP saja, di SMAN 1 Mdona Hyera
aku membina siswa siswi dsana sebagai guru BK, hal ini dikarenakan hanya ada
kepala sekolah, maklum sekolah itu baru di buka setahun yang lalu dan siswanya
hanya sepuluh orang saja, sedangkan siswa di SMP hanya dua puluh orang saja,
miris bukan. Tetapi aku tidak pantang menyerah. Aku pelajari data-data murid di
SMP dan SMA ternyata banyak siswa yang tidak masuk sekolah berbulan-bulan tanpa
di ketahui alasan mereka apa, dan itu sudah hal yang wajar bagi mereka namun
tidak tidak bagiku. Setelah aku bertanya kepada kepala sekolah, ternyata mereka
memang sengaja membolos untuk bekerja. Anak seusia mereka harus bekerja untuk
membantu perekonomian keluarga padahal sekolah disana gratis. Sehingga aku
berpikir melakukan konseling dengan wali murid.
Akhirnya dengan bantuan
kepala sekolah, konseling bisa di laksanakan. Berbagai pendapat dan alasan dari
wali murid aku dengarkan dengan baik, seolah-oleh mereka curhat tentang
perekonomian rumah tangga mereka dan aku selalu memamerkan senyumku serta menjadi
pendengar setia. Akupun menarik
kesimpulan bahwa mereka mengganggap hidup itu bekerja untuk mencari uang
sedangkan sekolah hanya untuk mengajari mereka cara berhitung dan membaca
setelah itu mereka tidak memperbolehkan anak-anak mereka sekolah walaupun
sekolah gratis.
Aku yang sedari tadi
diam mendengarkan dan tersenyum manis mulai berbicara, memberikan penjelasan
bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan depan anak-anak mereka,
bahkan dengan pendidikan itu pula anak-anak mereka mendapat pekerjaan yang
layak dan lebih baik dari pada bekerja cari ikan di laut ataupun mengasarkan
kelapa agar dijual dan mendapatkan uang untuk perut mereka. Mereka mendengarkan
setiap perkataanku dengan baik dan tak jarang mereka sambil menganggukkan
kepala pertanda mereka mengerti ucapanku. Setelah konseling itu wali murid
memperbolehkan anak-anaknya sekolah. Yang awalnya hanya 20 orang sekarang
menjadi 57 orang. Sedangkan yang SMA yang awalnya 10 orang menjadi 20 orang.
Meski tidak sebanyak murid yang di Jawa, paling tidak ada peningkatan dan
inilah awal mulainya pengabdianku.
Selain menjadi guru BK
di SMA dan SMP, aku juga mengajar mata pelajaran yang lain, seperti mulok,
senibudaya, fisika, sosiologi, ppkn, dan biologi. Jabatan wakasek kesiswaan
juga diberikan kepada mengingat aku adalah guru BK, tapi aku tetap menjalankan
tugasku menjadi guru BK.
Ketika aku mengajar di
SMA, aku sering menggunakan bimbingan kelompok untuk memberikan pelajaran
kecuali fisika biasanya aku menggunakan bimbingan klasikal karena fisika adalah
IPA dan berkutat pada angka. Bila di masyarakat aku memberikan pengarahan
ketika peringatan hari Kartini. Memberikan pengarahan dan pengertian tentang
kewajiban dan hak seorang wanita.
Tak jarang orang tua
murid datang kerumah dinasku untuk sekedar curhat mengenai masalah
anak-anaknya. Konsultasi tentang perkembangan anaknya, bagaimana anaknya di
sekolah, mereka juga sering mengeluh bila anaknya nakal. Tapi itu semua aku
balas dengan senyuman dan memberikan pengertian serta arahan untuk anaknya, di
samping itu aku sangat senang karena usahaku tidak sia-sia selama ini. Yang
mulanya orang tua tidak menghendaki adanya guru BK, yang apatis pada masa depan
anaknya,dan hanya memikirkan materi, sekarang mulai berubah baik sedikit demi
sedikit. Mereka sekarang lebih terbuka dengan adanya guru BK, lebih
mementingkan pendidikan.
Dari sekian peristiwa
yang aku ceritakan ada satu peristiwa yang sampai sekarang membekas di hatiku.
Seorang anak dari desa sebelah, desa Batugajah, jaraknya 3 jam dari desa
Lelang, dan itu harus ditempuh dengan jalan kaki. Dia tidak pernah terlambat
sekolah, dia selalu rajin dan mendengarkan guru mengajar. Namun suatu hari dia
tidak masuk sekolah seminggu, akhirnya aku melakukan kunjungan rumah atau home visit. Perjalanan begitu berat,
berkali-kali aku istirahat karena selama di Jawa aku hampir tak pernah alan
kaki, selalu naik motor kesayanganku, tapi di Maluku aku harus berjalan dengan
waktu hampir 4 jam. Sesampainya disana,
aku melihat dia sedang angkat air dari pegunungan. Ternyata dia tidak masuk
sekolah karena harus merawat ibunya yang sedang sakit. Parahnya lagi dia tidak
punya uang untuk berobat. Mendengar penjelasan dari dia, aku terenyuh, hingga
aku putuskan untuk membiayai segala pengobatan ibunya sehingga dia bisa fokus belajar
lagi, karena dia sekarang Kelas XII.
Hampir setahun aku di
Maluku, Tepatnya di desa Lelang, beberapa hari lagi kami pulang ke Jawa karena
masa penugasan kami telah selesai. Kami bersiap-siap membereskan barang-barang
kami. Kamipun memberikan kenang-kenangan untuk anak-anak didik kami sebelum
kami pergi jauh.
Hari itu tiba, untuk
pulang ke Jawa, dengan naik kapal ke Kupang, dan naik pesawat ke Surabaya. Kami pamit pada masyarakat disana, dan
murid-murid kami tercinta. Namun ada seorang anak tengah berlari dengan nafas
tersengal-sengal datang kepadaku. Akupun dengan senyum manisku menatapnya.
Grep..
Dia memelukku, baju
bagian pundakku basah. Apakah dia menangis?
“Loi, ose4 pardede5?”, ucapku sambil mengelus rambutnya yang
kriting dan panjang. Loi, itu nama panggilanku untuknya, sebenarnya nama
lengkapnya adalah Novita Loimalitna.
“ Bu, jang6 pigi7. Beta8
seng ingin di ajar oleh guru lain.”,
ucapnya sambil terisak. Hatiku ngilu mendengarnya.
“ Ose harus jadi anak yang pintar, nak. Raih cita-citamu sayang.
Jadilah dokter yang baik. Jangan pernah berhenti belajar ya, Loi.”, ucapku
dengan nada parau, karena berusaha menahan air mata.
“Beta pasti turuti kata ibu, beta
janji bu. Asal ibu seng usah balik lai9 ke Jawa. Nanti siapa
yang nasehati beta lai bu? Siapa yang negur Beta kalau salah? Kalau bu Adlin balik
ke Jawa.” Loi menangis sesenggukan. ‘oh Tuhan, sakitnya hati ini mendengar anak
didikku menangis seperti ini.’ Gumamku dalam hati.
“Loi, seng bisa. Bu
guru harus pulang karena masa tugas ibu guru dan bapak guru semua berakhir.
Nanti ada pengganti ibu kok. Jadi Loi tenang saja. Oleh karena itu Loi harus
semangat belajar, biar bisa jadi dokter. Setelah jadi dokter, Loi ke Jawa, ke
tempat ibu buktikan kalau Loi berhasil dan membuat bangga ibu.”kataku sambil
berusaha untuk tersenyum dan tegar di hadapannya dan dia menjawab dengan
anggukan. Setelah berpelukan lama akhirnya aku dan teman-temanku naik kapal.
Ketika aku naik kapal Loi berteriak dan berkata...
“ BU ADLIN ADALAH POWER
RANGERS KAMI!!!!!!!”
Aku membalasnya dengan
lambaian tangan mengarah padanya, tanpa terasa air mata yang kutahan dari
kemarin akhirnya meluncur deras dipipiku.
“ kamu memang ranger
Lelang, Dlin. Satu-satunya ranger BK di Lelang.” Kata salah satu temanku dengan
senyuman tulusnya dan disusul teman-teman yang lain memeluk aku. Aku hanya bisa
berdoa semoga murid-muridku menjadi generasi yang baik dan bisa menyaingi
murid-murid di Jawa... amiin.
KETERANGAN:
Katong1 : bahasa maluku yang artinya kami
seng2 : bahasa maluku yang artinya
tidak
sa3 : bahasa maluku yang artinya
saja
ose4 : bahasa maluku yang artinya
kamu
pardede5 : bahasa maluku yang artinya menangis
jang6 : bahasa maluku yang artinya
jangan
pigi7 : bahasa maluku yang artinya
pergi
Beta8 : bahasa maluku yang artinya
aku/saya
lai9 : bahasa maluku yang artinya
lagi
BY : Adlin yunila sari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar