Selasa, 18 November 2014

ARTI SEBUAH NAMA

Sudah lama aku merasa risih dengan namaku sendiri. Kenapa? Ya, karena aku merasa namaku benar-benar tidak cocok untuk anak muda seusiaku. Nama yang tidak keren. Namaku benar-benar ndeso, dibandingkan dengan nama teman-temanku.
Kuakui aku memang berasal dari desa. Lahirku didesa, tapi namaku jangan norak gitu. Sayangnya, waktu diberi nama aku belum bisa protes. Sehingga tidak perlu heran kalau diakta lahirku namaku tercetak dengan rapi: SUWARSIH. Nama itu juga menghiasi ijasahku dari SD sampai SMP. Kini nama itu juga tercetak di KTP yang baru saja aku buat. Seharusnya di abad globalisasi begini nama itu sungguh tidak layak pakai atau kebih baik dimuseumkan saja.
Tapi waktu aku mengajukan keberatan atas namaku itu, bapak dan ibuku malah marah-marah. Mereka bilang aku anak yang tidak menghargai orang tua. Apalagi adikku satu-satunya yang mereka beri nama Suwarno, sama sakali belum pernah merasa keberatan dengan namanya.
Aku merasa malu, canggung, bingung ketika memperkenalkan namaku pada teman-temanku. Apalagi pada cowok-cowok yang tampaknya menaruh hati padaku. Mereka pasti melongo sesaat sebelum akhirnya berusaha memaklumi keanehan namaku itu. Yang paling mengebalkan ketika mendengar cowok-cowok itu berkomentar, “Cantik-cantik kok namanya Suwarsih??”. Huh! Ingin sekali aku jitak jidad mereka.
“Aku minder dengan namaku Nes, kampungan kedengarannya.”
“Ah, kenapa harus minder? Kamu cukup pandai, wajah tergolong lumayan, pandai bikin puisi, kurang apa lagi?!”, tukas Vanesa heran.
“Iya, tapi apa jaman sekarang, nama seperti itu masih dipakai anak seusiaku?? Seperti kehabisan stok saja orang tuaku. Apalagi sekolah kita kan di tengah-tengah kota, nama-nama muridnya se,mua modern. Tidak seperti namaku!”, gerutuku sambil membolak-balikkan buku pelajaranku dan Vanesa tersenyum.
“Terus kalau namamu diganti, nama yang mau kamu pakai itu apa?”
            “Ya… Ella, Shinta, Lidia, Vera, atau apalah… Pokoknya bukan Suwarsih!”, tegasku dengan nada galak. Vanesa malah tertawa terbahak-bahak. Kupandangi  sahabatku itu dengan tajam. Aku merasa tersinggung, “ Kok malah menertawakan aku??”.
            “Sih, Warsih!”. Ku dengar seseorang memanggil namaku. Dan rupanya Fanny sedang menghampiriku.
“Ada apa Fan?”
“Kamu ikut lomba puisi juga kan?”, Tanya Fanny. Aku menggangguk.
“Wah, kira-kira siapa ya pemenangnya nanti?”. Aku hanya mengangkat bahu. Tapi aku tahu Fanny sangat berambisi untuk mewakili sekolah ini dalam rangka ajang kreasi siswa tahun ini. Sang juara saat ini telah duduk di kelas XII dan tidak diperkenankan ikut lagi. Aku juga tahu puisi Fanny lumayan bagus. Dia juga sering mengisi rubik-rubik puisi di majalah sekolahku.
“Mungkin kamu yang akan menang, Fan.”, pancingku. Mata Fanny terlihat berbinar-binar, namun dia tetap berusaha tenang.
“Semoga saja. Tapi puisi Serena juga bagus-bagus. Eh, Serena itu anak kelas berapa sich? Kok aku belum pernah tahu orangnya?”, kata Fanny penasaran. Aku tersenyum diam-diam. Nama itu aku kenal dengan baik. Bahkan aku sangat berharap Serena yang akan mewakili sekolah untuk lomba puisi tingkat kota madya nanti.
“Halo… kok malah bengong, Sih? Kamu kenal ya sama dia?”
“Oh, nggak juga tuh. Mungkin anak kelas X, jadi kita belum kenal dia.”, kilahku. Aku tidak mau Fanny  mengetahui siapa Serena. Dan kami bergegas ke aula, tempat diumumkannya wakil sekolah untuk lomba puisi.
Seperti biasa, aku duduk bersebelahan dengan Vanesa. Sementara di belakang dudukku ada Fiko, cowok jago basket yang sering jadi lirikan cewek-cewek di sekolah.
Pak Raharjo, guru Bahasa Indonesia sudah berdiri tegap di depan mikrofon.
“Baiklah anak-anak, seperti yang telah tertulis dipengumuman terdahulu hari ini bapak akan mengumumkan pemenang lomba puisi. Sebelumnya perlu kalian ketahui dari lomba puisi akan diambil 6 pemenang, 3 orang juara harapan dan 3 orang pemenang utama.
“Untuk pemenang ketiga dengan nilai 645, diraih oleh… Nurul Aini dari kelas X-3.”
“Selanjutnya… pemenang kedua dengan nilai 680, direbut oleh… Fanny widyastuti dari kelas XI-1.”. Aku melihat Fanny yang duduk di barisan depan dengan wajah kecewa walaupun tangannya banyak menerima selamat dari rekan-rekannya.
“Dan sekarang untuk juara pertama dan sekaligus mewakili sekolah kita. Juara pertama dengan total nilai 705 diaraih oleh… Serena dari kelas XI-3!”. Tepuk tangan terdengar, tetapi tidak semeriah sebelumnya. Banyak anak-anak yang bertanya-tanya, mereka saling menoleh ke kanan-ke kiri, ke belakang. Bahkan ada yang bilang, “Pak, di sekolah ini tidak ada yang bernama Serena!”
“Baik, bapak akan jelaskan. Wakil sekolah itu tidak lain dan tidak bukan adalah… Suwarsih!”. Kali ini bukan tepuk tangan yang terdengar, melainkan koor “Huuu” memenuhi aula. Aku tertunduk malu.
“Wah, namanya kayak nama mobil aja!!”, celetuk Fiko
“Nggak kayak nama mobil, tapi nama biscuit!”, celetuk yang lain disertai tawa cekikikan.
“Sudahlah Sih, kamu cuek aja, yang penting kamu pemenangnya!”, ucap Vanesa memberi semangat padaku.
Sesuai acara penerimaan hadiah, aku dipanggil kekantor guru.
“Selamat ya atas prestasimu.”, pak Waluyo mengulurkan tangannya. “Tapi jangan lupa dengan pelajaranmu.”, aku sambut tangan beliau sambil mengangguk.
“Terima kasih pak.”, sahutku pendek.
“Ngomong-ngomong, kamu dapat ide dari mana untuk memakai nama samara Serena?”, Tanya pak Waluyo. Aku tersipu dan aku menunduk. “Nama samaranmu bagus. Tetapi bapak rasa lebih baik kamu pakai namamu sendiri biar orang lain tahu bahwa kamu jagoan menulis puisi.”
“Baik, pak.”, hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku merasa pada semuanya dan juga pada diriku sendiri.
Mendadak aku jadi ingat pada salah satu ucapan pujangga Inggris Sakespeare, “ Apalah arti sebuah nama”. Hmmm, benar juga. Apapun nama yang dimiliki, yang lebih penting adalah karya yang bisa kita sumbangkan bagi kemajuan peradaban manusia. Ya, aku akan tetap bangga menyandang nama Suwarsih, bukan lagi nama Serena.

by :Adlin yunila sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar