Sudah lama aku merasa
risih dengan namaku sendiri. Kenapa? Ya, karena aku merasa namaku benar-benar
tidak cocok untuk anak muda seusiaku. Nama yang tidak keren. Namaku benar-benar
ndeso, dibandingkan dengan nama
teman-temanku.
Kuakui aku memang
berasal dari desa. Lahirku didesa, tapi namaku jangan norak gitu. Sayangnya,
waktu diberi nama aku belum bisa protes. Sehingga tidak perlu heran kalau
diakta lahirku namaku tercetak dengan rapi: SUWARSIH. Nama itu juga menghiasi ijasahku dari SD sampai SMP. Kini
nama itu juga tercetak di KTP yang baru saja aku buat. Seharusnya di abad
globalisasi begini nama itu sungguh tidak layak pakai atau kebih baik
dimuseumkan saja.
Tapi waktu aku
mengajukan keberatan atas namaku itu, bapak dan ibuku malah marah-marah. Mereka
bilang aku anak yang tidak menghargai orang tua. Apalagi adikku satu-satunya
yang mereka beri nama Suwarno, sama sakali belum pernah merasa keberatan dengan
namanya.
Aku merasa malu,
canggung, bingung ketika memperkenalkan namaku pada teman-temanku. Apalagi pada
cowok-cowok yang tampaknya menaruh hati padaku. Mereka pasti melongo sesaat
sebelum akhirnya berusaha memaklumi keanehan namaku itu. Yang paling
mengebalkan ketika mendengar cowok-cowok itu berkomentar, “Cantik-cantik kok
namanya Suwarsih??”. Huh! Ingin sekali aku jitak jidad mereka.
“Aku minder dengan
namaku Nes, kampungan kedengarannya.”
“Ah, kenapa harus
minder? Kamu cukup pandai, wajah tergolong lumayan, pandai bikin puisi, kurang
apa lagi?!”, tukas Vanesa heran.
“Iya, tapi apa jaman
sekarang, nama seperti itu masih dipakai anak seusiaku?? Seperti kehabisan stok
saja orang tuaku. Apalagi sekolah kita kan di tengah-tengah kota, nama-nama
muridnya se,mua modern. Tidak seperti namaku!”, gerutuku sambil
membolak-balikkan buku pelajaranku dan Vanesa tersenyum.
“Terus kalau namamu
diganti, nama yang mau kamu pakai itu apa?”
“Ya…
Ella, Shinta, Lidia, Vera, atau apalah… Pokoknya bukan Suwarsih!”, tegasku
dengan nada galak. Vanesa malah tertawa terbahak-bahak. Kupandangi sahabatku itu dengan tajam. Aku merasa
tersinggung, “ Kok malah menertawakan aku??”.
“Sih,
Warsih!”. Ku dengar seseorang memanggil namaku. Dan rupanya Fanny sedang
menghampiriku.
“Ada apa Fan?”
“Kamu ikut lomba puisi
juga kan?”, Tanya Fanny. Aku menggangguk.
“Wah, kira-kira siapa
ya pemenangnya nanti?”. Aku hanya mengangkat bahu. Tapi aku tahu Fanny sangat
berambisi untuk mewakili sekolah ini dalam rangka ajang kreasi siswa tahun ini.
Sang juara saat ini telah duduk di kelas XII dan tidak diperkenankan ikut lagi.
Aku juga tahu puisi Fanny lumayan bagus. Dia juga sering mengisi rubik-rubik
puisi di majalah sekolahku.
“Mungkin kamu yang akan
menang, Fan.”, pancingku. Mata Fanny terlihat berbinar-binar, namun dia tetap
berusaha tenang.
“Semoga saja. Tapi
puisi Serena juga bagus-bagus. Eh, Serena itu anak kelas berapa sich? Kok aku
belum pernah tahu orangnya?”, kata Fanny penasaran. Aku tersenyum diam-diam.
Nama itu aku kenal dengan baik. Bahkan aku sangat berharap Serena yang akan
mewakili sekolah untuk lomba puisi tingkat kota madya nanti.
“Halo… kok malah
bengong, Sih? Kamu kenal ya sama dia?”
“Oh, nggak juga tuh.
Mungkin anak kelas X, jadi kita belum kenal dia.”, kilahku. Aku tidak mau
Fanny mengetahui siapa Serena. Dan kami
bergegas ke aula, tempat diumumkannya wakil sekolah untuk lomba puisi.
Seperti biasa, aku
duduk bersebelahan dengan Vanesa. Sementara di belakang dudukku ada Fiko, cowok
jago basket yang sering jadi lirikan cewek-cewek di sekolah.
Pak Raharjo, guru
Bahasa Indonesia sudah berdiri tegap di depan mikrofon.
“Baiklah anak-anak,
seperti yang telah tertulis dipengumuman terdahulu hari ini bapak akan
mengumumkan pemenang lomba puisi. Sebelumnya perlu kalian ketahui dari lomba
puisi akan diambil 6 pemenang, 3 orang juara harapan dan 3 orang pemenang
utama.
“Untuk pemenang ketiga
dengan nilai 645, diraih oleh… Nurul Aini dari kelas X-3.”
“Selanjutnya… pemenang
kedua dengan nilai 680, direbut oleh… Fanny widyastuti dari kelas XI-1.”. Aku
melihat Fanny yang duduk di barisan depan dengan wajah kecewa walaupun
tangannya banyak menerima selamat dari rekan-rekannya.
“Dan sekarang untuk
juara pertama dan sekaligus mewakili sekolah kita. Juara pertama dengan total
nilai 705 diaraih oleh… Serena dari kelas XI-3!”. Tepuk tangan terdengar,
tetapi tidak semeriah sebelumnya. Banyak anak-anak yang bertanya-tanya, mereka
saling menoleh ke kanan-ke kiri, ke belakang. Bahkan ada yang bilang, “Pak, di
sekolah ini tidak ada yang bernama Serena!”
“Baik, bapak akan
jelaskan. Wakil sekolah itu tidak lain dan tidak bukan adalah… Suwarsih!”. Kali
ini bukan tepuk tangan yang terdengar, melainkan koor “Huuu” memenuhi aula. Aku
tertunduk malu.
“Wah, namanya kayak
nama mobil aja!!”, celetuk Fiko
“Nggak kayak nama
mobil, tapi nama biscuit!”, celetuk yang lain disertai tawa cekikikan.
“Sudahlah Sih, kamu
cuek aja, yang penting kamu pemenangnya!”, ucap Vanesa memberi semangat padaku.
Sesuai acara penerimaan
hadiah, aku dipanggil kekantor guru.
“Selamat ya atas
prestasimu.”, pak Waluyo mengulurkan tangannya. “Tapi jangan lupa dengan
pelajaranmu.”, aku sambut tangan beliau sambil mengangguk.
“Terima kasih pak.”,
sahutku pendek.
“Ngomong-ngomong, kamu
dapat ide dari mana untuk memakai nama samara Serena?”, Tanya pak Waluyo. Aku
tersipu dan aku menunduk. “Nama samaranmu bagus. Tetapi bapak rasa lebih baik
kamu pakai namamu sendiri biar orang lain tahu bahwa kamu jagoan menulis
puisi.”
“Baik, pak.”, hanya itu
yang keluar dari mulutku. Aku merasa pada semuanya dan juga pada diriku
sendiri.
Mendadak aku jadi
ingat pada salah satu ucapan pujangga Inggris Sakespeare, “ Apalah arti sebuah
nama”. Hmmm, benar juga. Apapun nama yang dimiliki, yang lebih penting adalah
karya yang bisa kita sumbangkan bagi kemajuan peradaban manusia. Ya, aku akan
tetap bangga menyandang nama Suwarsih, bukan lagi nama Serena.by :Adlin yunila sari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar