Di SMPku dulu, ada
pohon jambu. Buah jambu yang paling sering aku makan adalah buah yang berasal
dari pohon jambu itu. Bukan karena rasanya yang lebih manis dan segar, tetapi
karena pohon itu memberikan banyak kenangan indah bersama seseorang. Aku sering
nongkrong di pohon, sambil melamun mengenang pengaaman-pengalaman masa-masa SMP . Ya, sama seperti yang aku akukan sekarang.
Sejak pagi, aku
sudah duduk, bersandar pada pohon jambu sambil makan buah favoritku. Aku
mengamati matahari yang perlahan naik dari ufuk timur. Menikmati cahayanya yang
indah tetapi menyilaukan. Yang membuat mataku bingung, aku juga menikmati
bayanganku sendiri yang bersandar pada pohon jambu. Perlahan-lahan memanjang
dan membentuk gambar yang unik, kemudian segera memanjang lagi, lagi, dan lagi
sehingga bayanganku semakin tidak jelas bentuknya. Tak terasa sudah berjam-jam
aku menikmati matahari dan bayanganku ini. Bayangan yang tadi terus memanjang,
perlahan-perlahan memendek. Kembali kebentuknya yang unik tadi, lalu bentuknya
menjadi tidak jelas lagi. Sekarang bayanganku tidak terlihat lagi karena
tertutup bayangan pohon jambu ini. Walaupun sekarang matahari berada tepat di
atas kepala, aku tidak berkeringat, bahkan merasah gerah pun tidak. Itu karena
pohon jambu ini cukup rimbun untuk memayungiku.
Hari sudah siang
tetapi aku belum beranjak dari tempat itu. Aku masih duduk bersandar pada pohon
jambu sambil memakan buah favoritku. Aku mulai mengenang seseorang dari masa
lalu. Melati, sahabatku di SMP .
Dia baru masuk di SMP ini saat aku
duduk di kelas IX. dia pindah dari Jakarta ,
katanya sih keluarganya bosan dan penat dengan kota yang begitu padat. Melati ini orangnya
supel,hanya dalam waktu satu minggu dia sudah banyak teman. Aku yang pertama
kali diajak kenalan. Itu karena dia duduk disebelahku. Itu juga yang membuat
aku cepat akrab dengannya. Kalo di kelas, aku sering menanyakan pelajaran
padanya. Yang paling sering ada’lah sejarah, fisika, matematika dan biologi.
Empat mata pelajaran ini membuatku pusing. Aku sama sekali tidak paham saat
guru menerangkan. Aku
mengganggap mereka itu alien dari Mars, yang berbicara bahasa planet.
Semakin kari aku dan Melati semakin dekat. Kami sering melakukan
banyak hal berdua. Tempet favorit kami untuk beraktivitas adalah pohon jambu
ini. Setiap hari sepulang sekolah, kami selalu mampir ke sini. Kami belajar,
mengerjakan PR, bercanda dan saling bercerita tentang banyak hal. Misalnya
tentang teman-teman sekelas, tentang guru dan masalah-masalah lain yang menarik
bagi kami. Allen yang paling sering menjadi bahan pembicaraannya. Dia pacar
Melati yang tinggal di Jakarta .
Melati selalu menceritakan kisah cintanya dengan Allen dan masalah-masalahnya.
Aku berfikir betapa bahagianya orang itu mempunyai pacar seperti Melati. Sampai
sekarang aku masih belum punya pacar karena satu-satunya wanita yang ada di
hatiku hanya Melati. Dia tidak pernah tahu isi hatiku karena aku tidak pernah
mengatakannya pada siapapun, kecuali pada pohon jambu ini. Karena dihati Melati
hanya ada Allen, pasti aku ditolak mentah-mentah kalau aku menyatakan
perasaanku. Seperti buah jambu yang ada ulatnya, pasti langsung dimuntahkan.aku
juga takut persahabatan kami putus gara-gara perasaanku padanya. Sampai
sekarang perasaan itu masih ada tetapi hanya diam di hatiku.
Setelah lulus SMP , Melati kembali ke Jakarta . Menurut orang tuanya hidup di Jakarta lebih nyaman.
Melati juga ingin kembali ke Jakarta
karena dia rindu pada Allen. Dia ingin hubungannya dengan Allen membaik lagi.
Allen sempat ingin putus dengan Melati karena tidak tahan pacaran jarak jauh.
Saat dia pergi, aku hanya bias meneteskan air mata tanpa mengucapkan selamat
tinggal. Aku menangis di bawah pohon jambu ini. Banyak anak yang mengerumuniku
sambil meringis tetapi aku tidak malu, karena air mata ini bukan milik
perempuan dan aku memang benar-benar sedih saat itu. Di bangku SMA, aku semakin
jauh dangan Melati, SMS-ku jarang dibalas. Kalau aku menelponnya, dia selalu
sedang pergi keluar dengan Allen. Kalaupun diangkat, pasti cepat ditutup dengan
alas an yang sama. “Yah, Allen sudah menjemputku. Sorry ya…”. Sejak Melati
pergi, aku tidak hanya kehilangan sahabat. Tidak ada lagi yang membantu dan
membuatku semangat belajar. Nilai-nilaiku menurun bahakan aku hamper tidak naik
kelas.
Aku mulai berusaha
melupakan Melati di kelas XI karena mungkin dia sudah melupakan aku. Aku
berhenti menghubunginya, baik lewat telpon atau SMS. Tetapi di tengah usahaku
melupakan Melati, muncul hal yang mengejutkan. Aku menerima surat dari Melati.
“Maaf, aku tidak
pernah menghubungimu lagi. Allen melarangku, dia cemburu dan menyuruhku
melupakanmu. Kamu tahukan, aku takut kehilangan dia. Aku tidak punya pilihan
lain. Tetapi aku sungguh menyesal karena sekarang Allen bukan Allen yang dulu
kukenal. Dia menjadi orang
lain, kata-katanya kasar terhadapku. Dia begitu emosional dan mengekangku. Yang
lebih parah lagi, dia selingkuh! Tetapi saat aku minta putus, dia selalu
menolak. Aku mencobamenghindarinya tetapi dia dia terus mengejarku. Kupikir dia
berubah tetapi dia terus mengulangi perselingkuhannya dengan orang yang sama!
Aku tidak tahan lagi, di sini tidak ada siapa-siapa. Ayah bundaku ke luar
megeri mengurus perusahaannya. Aku ingin ke Yogya lagi.aku merasa aman di
dekatmu, aku sadar kalau kamu begitu istimewa untukku. Aku menyayangimu lebih
dari sahabat. Mungkin kamu tidak percaya tetapi ini jujur dari dalam hatiku.“
Bagaimana
aku tidak terkejut? Saat membaca surat itu perasaanku campur aduk, senang,
bingung, malu bercampur menjadi satu. Tetapi bagian yang paling aneh dari surat
itu adalah yang ini.
“Tolong
kamu jangan hubungi aku lewat SMS, telepon, e-mail atau apapun kecuali surat!
Hanya itu yang tidak bisa di ketahui Allen tetapi aku tidak bisa janji membelas
suratmu dengan cepat. Aku akan ke Yogya tahun depan. Tunggulah aku di tempat
kenangan kita. Aku mengharapkanmu di sana. Aku berjanji akan datang ke tempat
kenangan itu tepat tahun depan jadi jangan kecewakan aku.“
Ya,
itu yang membuatku duduk di sini sekarang. Di surat itu jelas tertulis tanggal
suratnya, 19 Januari 2006, setahun dari tanggal itu berarti 19 Januari 2007 tepat
hari ini. Berkali-kali aku membalas suratnya tetapi tidak pernah dibalas.
Sampai sekarang aku belum mengerti, Mengapa Melati tidak membalas satupun
surat-suratku. Tetapi untukku, cukup dengan surat itu saja, aku bisa memastikan
bahwa dia akan datang ke sini.
Tak
terasa, aku menunggu begitu lama. Hari sudah mulai gelap tetapi dia belum
datang, itu tidak masalah bagiku karena hari ini baru akan berakhir eman jam
lagi. Tempat ini mulai sepi, yang terdengar hanya ada suara nafasku dan juara
jambu yang kugigit. Awan mendung yang hitam mulai meneteskan gerimis. Daun-daun
pada pohon jambu ini tidak cukup lebat untuk memayungiku. Perlahan-lahan
tubuhku dibasahi tetesan air hujan. Aku kedinginan karena hari juga sudah
semakin gelap. Tubuhku gemetas, gigiku menggertak tak terkendali tetapi aku
masih belum berfikir untuk pulang.
Hati
kecilku berkata “Melati pasti Datang! Dia selalu menepati janjinya.“ Aku terus
menunggu di temani lampu minyak yang remang juga beberapa ekor kunang-kunang.
Sempat terfikir untuk beranjak dari tempat ini tetapi aku berfikir betapa
kecewanya Melati jika tidak ada aku di sini saat dia datang.
Waktu
terus berjalan, malam bertanbah malam. Angin malam semakin dingin hingga terasa
sampai ke tulang. Tanpa terasa 19 Januari telah berlalu, detik demi detik yang
kulalui di pohon jambu ini seakan percuma. Melati tidak datang, dia tidak
menepati janjinya. Tetapi di lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih ingin
menunggu di pohon jambu ini.
Karena
aku yakin, kalau memang Melati benar-benar penting, aku harus menunggu dengan
keyakinan, kepercayaan, kesabaran dan pengharapan. Karena sesuatu yang indah memang
layak untuk di tunggu. Dan dengan matahari yang baru, aku kembali menunggu di
pohon jambu.by adleenrocker
Bagus mbk adlin
BalasHapus