Minggu, 30 Oktober 2022

 Sekelumit Kisahku Saat Berbagi dan Berkolaborasi dalam Pemanfaatan Rumah Belajar di PembaTIK.

Assalamu'alaikum WR. WB, 

Salam Rumah Belajar,

Pembelajaran berbasis TIK atau di singkat PembaTIK merupakan salah satu program PUSDATIN KEMDIKBUD untuk meningkatkan kompetensi kita sebagai guru. PembaTIK ini terdiri 4 Level, yaitu literasi, implementasi , kereasi dan berbagi &kolaborasi. dan itu baru saya ikuti di tahun 2022 setelah mendapat informasi dari lulusan guru penggerak di sekolah saya.

Pada saat PembaTIK level 1, di sekolah saya banyak yang ikut, itu menunjukkan betapa semangatnya saya dan teman-teman sejawat mengikuti Program PembaTIK ini meski kendala terbesar kami adalah susahnya jaringan internet. Sungguh meski harus melintasi ke desa sebelah yang ada signalnya, kami lalui bersama, dan bagi saya pribadi ujian level 1 merupakan hal mudah. Karena soal ujian bisa saya kerjakan. hal itu tidak terlepas dari hobby saya yang suka selancar di sosial media seperti youtube, twitter, instagram, dan snapchat. 

ketika PembaTik level 2, saya dan teman-teman sejawat saling membantu merekam satu sama lain untuk tugas pembuatan video model pembelajaran yang kemudian di unggah di youtube. Hal itu tidak asing bagi saya lagi, karena saya sering membuat konten youtube, meski harus unggah video malam hari agar mendapat jaringan internet yang bagus.

Setelah lulus, di level 2, saya langsung masuk di pembaTIK level 3 yang isi modulnya semua itu tentang semua media digital.. Di sinilah saya sangat menyukai tugas pembatik Level 3 yaitu membuat media digital untuk pembelajaran. Pasti para pembaca bertanya dalam hati, "kenapa suka?bukannya sulit membuat media pembelajaran apalagi berbasis digital?" , bagi saya itu tugas yang menyenangkan, karena suka dengan teknologi, apalagi ada tugas pembuatan edugame. tentunya saya sangat bersemangat sekali membuatnya, dan lulus. 

Sekarang di pembaTIK level 4, tugasnya adalah membuat vlog dan blog tentang deseminasi, berbagi dan berkolaborasi untuk portal rumah belajar dan platform merdeka mengajar. maka saya bersama teman- teman berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. seperti berkolaborasi dengan perwakilan pihak dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Buol, yaitu Kepala Bidang Ketenagaan.

 



Bapak Kepala Bidang Ketenagaan sangat mendukung kegiatan kami dan memberi motivasi pada kami semua agar jangan menyerah dan selalu bersemangat.

Kegiatan sosialisasi berbagi dan berkolaborasi untuk pemanfaatan portal rumah belajar dimulai di SMPN 8 Bukal pada tanggal 25 Oktober 2022, dengan dikuti guru-guru yang hadir dengan semangat dan ingin sekali mengikuti progam pembaTIK  di tahun 2023, karena baru pertama kalinya mereka tahu tentang pembaTIK setelah kami melakukan sosialisasi di sekolah mereka.



Selain itu, saya juga meminta izin dan berkoordinasi dengan kepala sekolah SMPN 1 lakea (Samsi L, Labaco, S.Ag) yang merupakan atasan saya di tempat saya bekerja untuk menjadikan sekolah kami tempat deseminasi atau sosialisasi pemanfaatan portal rumah belajar dan platform merdeka mengajar yang kedua. dan beliau sangat mendukung dan menyambut baik.


saya juga berkoordinasi dengan guru-guru di sekolah saya demi menyukseskan kegiatan deseminasi berbagi dan berkolaborasi pemanfaatan portal rumah belajar. Guru-guru tersebut adalah ibu Sukrieny Arsyad, S.Pd, beliau merupakan satu-satunya lulusan guru  penggerak di sekolah kami dan yang pertama kali mendukung kegiatan deseminasi. 

Kemudian, saya juga meminta bantuan pada pak Fadli A,S.Pd, pak Zulkipli, S.Sos, Pak Ibrahim, dan ibu Ersayanti, S.Pd untuk menyiapkan sarana dan prasarana guna untuk menunjang sosialisasi di SMPN 1 Lakea.

Sehingga pada tanggal 28 Oktober 2022, kegiatan sosialisasi berbagi dan berkolaborasi pemanfaatan rumah belajar terlaksana dengan baik meski hanya terkendala signal, namun tidak menyurutkan kegiatan tersebut. karena kami udah melakukan rekam layar di setiap fitur-fitur rumah belajar dan platform merdeka mengajar. 


Kegiatan-kegiatan deseminasi, berbagi dan berkolaborasi untuk pemanfaatan portal rumah belajar dan platform merdeka mengajar yang kami laksanakan dan juga kegiatan pembelajaran inovatif yang saya lakukan dengan siswa, serta pengenalan kearifan lokal dari kabupaten Buol, saya abadikan dan saya dokumentasikan dalam bentuk vlog yang sudah saya unggah di youtube channel saya.


semoga dengan diadakannya sosialisasi berbagai dan berkolaborasi yang kami lakukan, bisa menambah semangat dan motivasi untuk para teman sejawat lainnya menggunakan media digital di jaman era teknologi sekarang.

saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih saya pada semua guru-guru yang terlibat dalam kegiatan deseminasi berbagi dan berkolaborasi yaitu, kepala sekolah dan semua guru SMPN 8 Bukal dan Kepala sekolah dan semua guru SMPN 1 Lakea.

Demikianlah coretan-coretan cerita saya mengenai berbagi dan berkolaborasi portal rumah belajar dan platform merdeka mengajar.

Wassalamu'alaikum WR. WB,

Salam Rumah Belajar.

Selasa, 09 Desember 2014

Menunggu Di Pohon Jambu


            Di SMPku dulu, ada pohon jambu. Buah jambu yang paling sering aku makan adalah buah yang berasal dari pohon jambu itu. Bukan karena rasanya yang lebih manis dan segar, tetapi karena pohon itu memberikan banyak kenangan indah bersama seseorang. Aku sering nongkrong di pohon, sambil melamun mengenang pengaaman-pengalaman masa-masa SMP. Ya, sama seperti yang aku akukan sekarang.
            Sejak pagi, aku sudah duduk, bersandar pada pohon jambu sambil makan buah favoritku. Aku mengamati matahari yang perlahan naik dari ufuk timur. Menikmati cahayanya yang indah tetapi menyilaukan. Yang membuat mataku bingung, aku juga menikmati bayanganku sendiri yang bersandar pada pohon jambu. Perlahan-lahan memanjang dan membentuk gambar yang unik, kemudian segera memanjang lagi, lagi, dan lagi sehingga bayanganku semakin tidak jelas bentuknya. Tak terasa sudah berjam-jam aku menikmati matahari dan bayanganku ini. Bayangan yang tadi terus memanjang, perlahan-perlahan memendek. Kembali kebentuknya yang unik tadi, lalu bentuknya menjadi tidak jelas lagi. Sekarang bayanganku tidak terlihat lagi karena tertutup bayangan pohon jambu ini. Walaupun sekarang matahari berada tepat di atas kepala, aku tidak berkeringat, bahkan merasah gerah pun tidak. Itu karena pohon jambu ini cukup rimbun untuk memayungiku.
            Hari sudah siang tetapi aku belum beranjak dari tempat itu. Aku masih duduk bersandar pada pohon jambu sambil memakan buah favoritku. Aku mulai mengenang seseorang dari masa lalu. Melati, sahabatku di SMP. Dia baru masuk di SMP ini saat aku duduk di kelas IX. dia pindah dari Jakarta, katanya sih keluarganya bosan dan penat dengan kota yang begitu padat. Melati ini orangnya supel,hanya dalam waktu satu minggu dia sudah banyak teman. Aku yang pertama kali diajak kenalan. Itu karena dia duduk disebelahku. Itu juga yang membuat aku cepat akrab dengannya. Kalo di kelas, aku sering menanyakan pelajaran padanya. Yang paling sering ada’lah sejarah, fisika, matematika dan biologi. Empat mata pelajaran ini membuatku pusing. Aku sama sekali tidak paham saat guru menerangkan. Aku mengganggap mereka itu alien dari Mars, yang berbicara bahasa planet.
            Semakin kari aku dan Melati semakin dekat. Kami sering melakukan banyak hal berdua. Tempet favorit kami untuk beraktivitas adalah pohon jambu ini. Setiap hari sepulang sekolah, kami selalu mampir ke sini. Kami belajar, mengerjakan PR, bercanda dan saling bercerita tentang banyak hal. Misalnya tentang teman-teman sekelas, tentang guru dan masalah-masalah lain yang menarik bagi kami. Allen yang paling sering menjadi bahan pembicaraannya. Dia pacar Melati yang tinggal di Jakarta. Melati selalu menceritakan kisah cintanya dengan Allen dan masalah-masalahnya. Aku berfikir betapa bahagianya orang itu mempunyai pacar seperti Melati. Sampai sekarang aku masih belum punya pacar karena satu-satunya wanita yang ada di hatiku hanya Melati. Dia tidak pernah tahu isi hatiku karena aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun, kecuali pada pohon jambu ini. Karena dihati Melati hanya ada Allen, pasti aku ditolak mentah-mentah kalau aku menyatakan perasaanku. Seperti buah jambu yang ada ulatnya, pasti langsung dimuntahkan.aku juga takut persahabatan kami putus gara-gara perasaanku padanya. Sampai sekarang perasaan itu masih ada tetapi hanya diam di hatiku.
            Setelah lulus SMP, Melati kembali ke Jakarta. Menurut orang tuanya hidup di Jakarta lebih nyaman. Melati juga ingin kembali ke Jakarta karena dia rindu pada Allen. Dia ingin hubungannya dengan Allen membaik lagi. Allen sempat ingin putus dengan Melati karena tidak tahan pacaran jarak jauh. Saat dia pergi, aku hanya bias meneteskan air mata tanpa mengucapkan selamat tinggal. Aku menangis di bawah pohon jambu ini. Banyak anak yang mengerumuniku sambil meringis tetapi aku tidak malu, karena air mata ini bukan milik perempuan dan aku memang benar-benar sedih saat itu. Di bangku SMA, aku semakin jauh dangan Melati, SMS-ku jarang dibalas. Kalau aku menelponnya, dia selalu sedang pergi keluar dengan Allen. Kalaupun diangkat, pasti cepat ditutup dengan alas an yang sama. “Yah, Allen sudah menjemputku. Sorry ya…”. Sejak Melati pergi, aku tidak hanya kehilangan sahabat. Tidak ada lagi yang membantu dan membuatku semangat belajar. Nilai-nilaiku menurun bahakan aku hamper tidak naik kelas.
            Aku mulai berusaha melupakan Melati di kelas XI karena mungkin dia sudah melupakan aku. Aku berhenti menghubunginya, baik lewat telpon atau SMS. Tetapi di tengah usahaku melupakan Melati, muncul hal yang mengejutkan. Aku menerima surat dari Melati.
            “Maaf, aku tidak pernah menghubungimu lagi. Allen melarangku, dia cemburu dan menyuruhku melupakanmu. Kamu tahukan, aku takut kehilangan dia. Aku tidak punya pilihan lain. Tetapi aku sungguh menyesal karena sekarang Allen bukan Allen yang dulu kukenal. Dia menjadi orang lain, kata-katanya kasar terhadapku. Dia begitu emosional dan mengekangku. Yang lebih parah lagi, dia selingkuh! Tetapi saat aku minta putus, dia selalu menolak. Aku mencobamenghindarinya tetapi dia dia terus mengejarku. Kupikir dia berubah tetapi dia terus mengulangi perselingkuhannya dengan orang yang sama! Aku tidak tahan lagi, di sini tidak ada siapa-siapa. Ayah bundaku ke luar megeri mengurus perusahaannya. Aku ingin ke Yogya lagi.aku merasa aman di dekatmu, aku sadar kalau kamu begitu istimewa untukku. Aku menyayangimu lebih dari sahabat. Mungkin kamu tidak percaya tetapi ini jujur dari dalam hatiku.“
            Bagaimana aku tidak terkejut? Saat membaca surat itu perasaanku campur aduk, senang, bingung, malu bercampur menjadi satu. Tetapi bagian yang paling aneh dari surat itu adalah yang ini.
            “Tolong kamu jangan hubungi aku lewat SMS, telepon, e-mail atau apapun kecuali surat! Hanya itu yang tidak bisa di ketahui Allen tetapi aku tidak bisa janji membelas suratmu dengan cepat. Aku akan ke Yogya tahun depan. Tunggulah aku di tempat kenangan kita. Aku mengharapkanmu di sana. Aku berjanji akan datang ke tempat kenangan itu tepat tahun depan jadi jangan kecewakan aku.“
            Ya, itu yang membuatku duduk di sini sekarang. Di surat itu jelas tertulis tanggal suratnya, 19 Januari 2006, setahun dari tanggal itu berarti 19 Januari 2007 tepat hari ini. Berkali-kali aku membalas suratnya tetapi tidak pernah dibalas. Sampai sekarang aku belum mengerti, Mengapa Melati tidak membalas satupun surat-suratku. Tetapi untukku, cukup dengan surat itu saja, aku bisa memastikan bahwa dia akan datang ke sini.
            Tak terasa, aku menunggu begitu lama. Hari sudah mulai gelap tetapi dia belum datang, itu tidak masalah bagiku karena hari ini baru akan berakhir eman jam lagi. Tempat ini mulai sepi, yang terdengar hanya ada suara nafasku dan juara jambu yang kugigit. Awan mendung yang hitam mulai meneteskan gerimis. Daun-daun pada pohon jambu ini tidak cukup lebat untuk memayungiku. Perlahan-lahan tubuhku dibasahi tetesan air hujan. Aku kedinginan karena hari juga sudah semakin gelap. Tubuhku gemetas, gigiku menggertak tak terkendali tetapi aku masih belum berfikir untuk pulang.
            Hati kecilku berkata “Melati pasti Datang! Dia selalu menepati janjinya.“ Aku terus menunggu di temani lampu minyak yang remang juga beberapa ekor kunang-kunang. Sempat terfikir untuk beranjak dari tempat ini tetapi aku berfikir betapa kecewanya Melati jika tidak ada aku di sini saat dia datang.
            Waktu terus berjalan, malam bertanbah malam. Angin malam semakin dingin hingga terasa sampai ke tulang. Tanpa terasa 19 Januari telah berlalu, detik demi detik yang kulalui di pohon jambu ini seakan percuma. Melati tidak datang, dia tidak menepati janjinya. Tetapi di lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih ingin menunggu di pohon jambu ini.
            Karena aku yakin, kalau memang Melati benar-benar penting, aku harus menunggu dengan keyakinan, kepercayaan, kesabaran dan pengharapan. Karena sesuatu yang indah memang layak untuk di tunggu. Dan dengan matahari yang baru, aku kembali menunggu di pohon jambu.

by adleenrocker 

Selasa, 18 November 2014

ARTI SEBUAH NAMA

Sudah lama aku merasa risih dengan namaku sendiri. Kenapa? Ya, karena aku merasa namaku benar-benar tidak cocok untuk anak muda seusiaku. Nama yang tidak keren. Namaku benar-benar ndeso, dibandingkan dengan nama teman-temanku.
Kuakui aku memang berasal dari desa. Lahirku didesa, tapi namaku jangan norak gitu. Sayangnya, waktu diberi nama aku belum bisa protes. Sehingga tidak perlu heran kalau diakta lahirku namaku tercetak dengan rapi: SUWARSIH. Nama itu juga menghiasi ijasahku dari SD sampai SMP. Kini nama itu juga tercetak di KTP yang baru saja aku buat. Seharusnya di abad globalisasi begini nama itu sungguh tidak layak pakai atau kebih baik dimuseumkan saja.
Tapi waktu aku mengajukan keberatan atas namaku itu, bapak dan ibuku malah marah-marah. Mereka bilang aku anak yang tidak menghargai orang tua. Apalagi adikku satu-satunya yang mereka beri nama Suwarno, sama sakali belum pernah merasa keberatan dengan namanya.
Aku merasa malu, canggung, bingung ketika memperkenalkan namaku pada teman-temanku. Apalagi pada cowok-cowok yang tampaknya menaruh hati padaku. Mereka pasti melongo sesaat sebelum akhirnya berusaha memaklumi keanehan namaku itu. Yang paling mengebalkan ketika mendengar cowok-cowok itu berkomentar, “Cantik-cantik kok namanya Suwarsih??”. Huh! Ingin sekali aku jitak jidad mereka.
“Aku minder dengan namaku Nes, kampungan kedengarannya.”
“Ah, kenapa harus minder? Kamu cukup pandai, wajah tergolong lumayan, pandai bikin puisi, kurang apa lagi?!”, tukas Vanesa heran.
“Iya, tapi apa jaman sekarang, nama seperti itu masih dipakai anak seusiaku?? Seperti kehabisan stok saja orang tuaku. Apalagi sekolah kita kan di tengah-tengah kota, nama-nama muridnya se,mua modern. Tidak seperti namaku!”, gerutuku sambil membolak-balikkan buku pelajaranku dan Vanesa tersenyum.
“Terus kalau namamu diganti, nama yang mau kamu pakai itu apa?”
            “Ya… Ella, Shinta, Lidia, Vera, atau apalah… Pokoknya bukan Suwarsih!”, tegasku dengan nada galak. Vanesa malah tertawa terbahak-bahak. Kupandangi  sahabatku itu dengan tajam. Aku merasa tersinggung, “ Kok malah menertawakan aku??”.
            “Sih, Warsih!”. Ku dengar seseorang memanggil namaku. Dan rupanya Fanny sedang menghampiriku.
“Ada apa Fan?”
“Kamu ikut lomba puisi juga kan?”, Tanya Fanny. Aku menggangguk.
“Wah, kira-kira siapa ya pemenangnya nanti?”. Aku hanya mengangkat bahu. Tapi aku tahu Fanny sangat berambisi untuk mewakili sekolah ini dalam rangka ajang kreasi siswa tahun ini. Sang juara saat ini telah duduk di kelas XII dan tidak diperkenankan ikut lagi. Aku juga tahu puisi Fanny lumayan bagus. Dia juga sering mengisi rubik-rubik puisi di majalah sekolahku.
“Mungkin kamu yang akan menang, Fan.”, pancingku. Mata Fanny terlihat berbinar-binar, namun dia tetap berusaha tenang.
“Semoga saja. Tapi puisi Serena juga bagus-bagus. Eh, Serena itu anak kelas berapa sich? Kok aku belum pernah tahu orangnya?”, kata Fanny penasaran. Aku tersenyum diam-diam. Nama itu aku kenal dengan baik. Bahkan aku sangat berharap Serena yang akan mewakili sekolah untuk lomba puisi tingkat kota madya nanti.
“Halo… kok malah bengong, Sih? Kamu kenal ya sama dia?”
“Oh, nggak juga tuh. Mungkin anak kelas X, jadi kita belum kenal dia.”, kilahku. Aku tidak mau Fanny  mengetahui siapa Serena. Dan kami bergegas ke aula, tempat diumumkannya wakil sekolah untuk lomba puisi.
Seperti biasa, aku duduk bersebelahan dengan Vanesa. Sementara di belakang dudukku ada Fiko, cowok jago basket yang sering jadi lirikan cewek-cewek di sekolah.
Pak Raharjo, guru Bahasa Indonesia sudah berdiri tegap di depan mikrofon.
“Baiklah anak-anak, seperti yang telah tertulis dipengumuman terdahulu hari ini bapak akan mengumumkan pemenang lomba puisi. Sebelumnya perlu kalian ketahui dari lomba puisi akan diambil 6 pemenang, 3 orang juara harapan dan 3 orang pemenang utama.
“Untuk pemenang ketiga dengan nilai 645, diraih oleh… Nurul Aini dari kelas X-3.”
“Selanjutnya… pemenang kedua dengan nilai 680, direbut oleh… Fanny widyastuti dari kelas XI-1.”. Aku melihat Fanny yang duduk di barisan depan dengan wajah kecewa walaupun tangannya banyak menerima selamat dari rekan-rekannya.
“Dan sekarang untuk juara pertama dan sekaligus mewakili sekolah kita. Juara pertama dengan total nilai 705 diaraih oleh… Serena dari kelas XI-3!”. Tepuk tangan terdengar, tetapi tidak semeriah sebelumnya. Banyak anak-anak yang bertanya-tanya, mereka saling menoleh ke kanan-ke kiri, ke belakang. Bahkan ada yang bilang, “Pak, di sekolah ini tidak ada yang bernama Serena!”
“Baik, bapak akan jelaskan. Wakil sekolah itu tidak lain dan tidak bukan adalah… Suwarsih!”. Kali ini bukan tepuk tangan yang terdengar, melainkan koor “Huuu” memenuhi aula. Aku tertunduk malu.
“Wah, namanya kayak nama mobil aja!!”, celetuk Fiko
“Nggak kayak nama mobil, tapi nama biscuit!”, celetuk yang lain disertai tawa cekikikan.
“Sudahlah Sih, kamu cuek aja, yang penting kamu pemenangnya!”, ucap Vanesa memberi semangat padaku.
Sesuai acara penerimaan hadiah, aku dipanggil kekantor guru.
“Selamat ya atas prestasimu.”, pak Waluyo mengulurkan tangannya. “Tapi jangan lupa dengan pelajaranmu.”, aku sambut tangan beliau sambil mengangguk.
“Terima kasih pak.”, sahutku pendek.
“Ngomong-ngomong, kamu dapat ide dari mana untuk memakai nama samara Serena?”, Tanya pak Waluyo. Aku tersipu dan aku menunduk. “Nama samaranmu bagus. Tetapi bapak rasa lebih baik kamu pakai namamu sendiri biar orang lain tahu bahwa kamu jagoan menulis puisi.”
“Baik, pak.”, hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku merasa pada semuanya dan juga pada diriku sendiri.
Mendadak aku jadi ingat pada salah satu ucapan pujangga Inggris Sakespeare, “ Apalah arti sebuah nama”. Hmmm, benar juga. Apapun nama yang dimiliki, yang lebih penting adalah karya yang bisa kita sumbangkan bagi kemajuan peradaban manusia. Ya, aku akan tetap bangga menyandang nama Suwarsih, bukan lagi nama Serena.

by :Adlin yunila sari

Minggu, 16 November 2014

My Lady Ranger

Aku termenung duduk di kursi kamar yang berdinding putih dan berbau obat-obatan, ciri khas untuk kamar rumah sakit tempat dimana beliau bekerja selama selama lebih dari 30 tahun. Sambil membuka laptop di hadapanku dan menemani seseorang yang telah melahirkanku sedang tertidur karena sakit akibat kecelakaan di kantornya. Mengingat ada tugas literasi untuk menceritakan tentang kisah seorang ibu. Awalnya aku bingung mulai dari mana menulisnya, hingga aku putuskan untuk menceritakan ibuku. Ya, ibu kandungku...

*flasback on*
Hubunganku dengan beliau tidak seperti teman-temanku yang selalu indah, namun aku juga tidak mengatakan hubunganku dengan beliau buruk. Malah kata mereka terlihat aneh awalnya. Bagaimana tidak, dulu ketika beliau kerja berangkat dari rumah aku hampir tak pernah melihat ibu, yang selalu ketemui hanya memo yang menempel di kulkas berisi:
“Nduk1, ibu udah bikin sarapan buat pean
sama adek-adekmu, Ibu pulang malem.”
            Memo itu yang selalu kulihat tiap pagi hari sejak aku SMA. Begitu juga malam hari, aku tak pernah kuat menahan kantukku untuk melihat beliau datang ke rumah. Hmm... agak miris memang, ibu berangkat kerja pagi sebelum aku bangun, ibu juga pulang malam ketika aku dan kedua adikku tertidur. Hanya ayah saja yang selalu bertemu dengan ibu, mengantarkan ibu kerja sebelum ayah ke kantor, dan menjemput ibu pulang kerja. Ayah sangat menyayangi ibu dan anak-anknya meski ayah mendidik kami keras dan berusaha meluangkan waktu untuk kami bertiga. Sedangkan ibu, sangat susah... karena pekerjaan ibu yang menuntut ibu menunaikan kewajibannya sebagai kepala perawat di salah satu rumah sakit swasta Surabaya.
            Meski aku jarang sekali bertemu dengan ibu, tapi aku selalu berusaha menghubunginya lewat telepon ataupun SMS, namun jarang sekali di balas. Kalaupun ibu SMS aku itupun hanya singkat saja. Seperti : “Nduk gimana skripsinya??” atau “udah sampai mana skrisinya?”.
Dan aku membalas smsnya panjang kali lebar, meski ibu hanya bertanya satu hal saja. Hmmm... aku merindukannya...merindukan sosoknya yang dulu selalu menemaniku ketika belajar, makan, sakit, dan senang..merindukan ibu yang dulu ketika aku masih kecil. Namun aku hanya bergumam saja dalam hati, tak pernah sekalipun aku mengeluh padanya, takut menyakiti beliau. Karena ayah selalu mengajarkan aku dan adik-adikku untuk menghargai dan menghormati ibu. Dan itu selalu aku tancapkan di hatiku...selalu..
            Ketika aku menang lomba pencak silat se-Jawa Timur dengan gelar juara satu. Aku berharap orang tua datang melihat, tapi ternyata tidak. Yang mengecewakan sekali jawaban dari alasannya adalah karena pekerjaan ibu yang tidak bisa di tinggalkan. Hmmm...miris sekali.. itu pun tidak sekali saja, tapi selalu. Hingga aku tak pernah lagi minta dan berharapkan kedatangan mereka, terutama ibu. Bukan berarti aku membenci beliau... sama sekali tidak, hanya tersebesit kekecewaan yang selalu hinggap di hatiku dan untuk kesekian kalinya aku memendamnya. Karena aku sayang ibu.
*flasback off*

***

Aku masih duduk mengetik kisahku dan beliau sambil sekali-kali melihat beliau. Beliau yang sudah tua. Hhhmmm...
“ Ibu, njenengan2 mulai beruban, sudah mulai berkerut.. tapi njenengan masih saja mikirin pasien. Apa ibu tidak rindu aku? Rindu adek-adek? Ibu cepatlah bangun. Ibu buat aku kawatir.aku sayang ibu”, ucapku dengan suara parau lirih.
Aku hanya bisa mengelus-elus punggung tanggannya sambil mengingat kejadian peristiwa-peristiwa yang lalu.

***
*flasback on*
Setelah aku lulus kuliah, aku memutuskan untuk ikut SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Tertinggal, Terluar dan Terdepan). Restu orang tua dan keluarga besar sudah aku kantongi. Namun ketika orang tua mengantarkan aku ke bandara ada terbersit rasa sedih, sakit, dan terluka.
 Bagaimana tidak, orang tuaku tidak bisa menunggu dan menemani di sana. Bahkan mereka tidak memarkirkan mobilnya, justru langsung tancap gas. Aku hanya melongo dan terdiam. Rasa iri berkecamuk di hatiku ketika melihat teman-teman seperjuanganku di temani keluarga mereka dengan tangis haru, sedangkan aku??? Aku hanya diam saja, berusaha mengontrol rasa yang berkecamuk di hatiku.

***
Selama setahun di tempat tugas, aku selalu berusaha menghubungi keluargaku yang di Jawa. Meski tidak ada sinyal tapi masih ada telpon satelit dengan harga selangit setiap menit. Dan setiap aku menghubungi keluarga, hanya satu anggota keluarga yang selalu menitipkan salam pada aku, yaitu ibu. Aku tanya kenapa tidak menyampaikan sendiri, tapi alasannya sama ‘SIBUK’. Dan lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menitikkan air mata... aku rindu ibu... tapi beliau sebaliknya. Selama di sana, pertanyaan yang ada di benakku ‘apakah beliau rindu aku? Kawatir denganku? ‘ Tapi aku selalu menepisnya.

***

Setelah setahun aku berada di daerah 3T, akhirnya aku pulang bersama teman-teman dan memang masa tugas kami selesai. Sesampainya di Jawa, puji syukur kupanjatkan. Dan lebih membahagiakan lagi keluargaku datang semua, terutama ibu. Aku langsung merebahkan tubuh dipelukan ibu, menangis seperti anak kecil, dan mengatakan “ aku sayang ibu”.. dan ibu membalasnya dengan senyum tanpa air mata, “ podho3 nduk...podho..
***

Ketika aku PPL, ayah menelpon dan berkata ibu dirawat karena terpeleset di kamar mandi tempat beliau bekerja. Tapi aku baru bisa kesana setelah pulang PPL. Setibanya di sana, aku bertemu ayah dan mendapati ibu tidur di ranjang putih dan tangan beliau dengan  infus di tangannya.
“Aku jarang ketemu ibu...sekali ketemu malah pas ibu sakit. Hmm..ibu sih terlalu cinta pekerjaan ketimbang aku yah”. Kataku kesal sambil bersandar di kursi sebelah ranjang ibu dan melihat raut wajah beliau yang pucat.
“hmmm...ibumu sayang banget sama kamu nduk. Dari dulu sampai sekarang...dan ibu kerja karena demi kamu dan adik-adikmu”. Kata ayahku yang duduk di sampingku.
iyo ta, yah4?? Kok ibu gak pernah cari aku pas aku di daerah 3T?? Ibu gak pernah mau ngbrol ketika aku telpon?ibu selalu menghindar kalau aku mencarinya. Kalaupun dirumah juga selalu ninggalin pesan, itupun masih saja seperti itu meski aku sudah pulang dari Maluku. Koyok-e5 ibu emang gak peduli dan gak sayang aku dari dulu, yah.” Kataku tambah kesal mengungkapkan isi hati yang selama ini terpendam.
“Kan kamu tahu ibu harus urus pasien... lagipula ibu peduli sama kamu, nduk. Ibu masakin sarapan buat anak-anaknya pagi buta sebelum berangkat kerja. Ibu sering tanya ke ayah tentang anak-anaknya, terutama kamu. Karena kamu anak pertama. Anak yang di jagokan ibumu. Ibumu selalu perhatian.”
Deg,... aku terdiam mendengar perkataan ayah.
“Sewaktu kamu skripsi, ibu kawatir sama keadaan kamu yang jarang tidur mengerjakan skripsimu. Ibumu juga selalu membelamu ketika ayah kecewa sama kamu gara-gara skripsimu belum selesai. Ibumu selalu bilang ‘Nila gak6 malas, Yah, skripsinya emang gak sembarangan. Sing7 sabar to, Yah.’ Ibumu selalu dukung skripsimu nduk.”
“Setelah kami ngantarin kamu kebandara, ibumu gak menemani kamu dibandara dan langsung pulang. Kamu tau kenapa,nduk?”
 Tanya ayah, dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“ibumu nahan air mata selama ini, terutama keputusanmu yang ikut SM3T. Ibu sebenarnya gak rela kamu pergi, tapi ibu gak nunjukin tangisnya ke kamu karena takut kamu ikut sedih. Lalu kenapa selama kamu menghubungi ibumu tapi ibu hanya titip salam ke kamu melalui ayah, karena nanti ibumu pasti menangis dan kamu nanti kepikiran di sana. Ibumu itu selalu kangen kamu, ibumu selama setahun nangisi kamu dan doakan kamu, supaya kamu kuat dan tegar disana. Ibumu selalu cari di internet tentang kabar atau berita di tempat kamu mengabdi.”

Aku hanya bisa terdiam memegang tangan ibu dan menangis tanpa bersuara.
“ibumu sayang kamu nduk... ibumu rindu kamu nduk.. makanya ibu begitu karena tahu dan percaya anak perempuannya kuat, mandiri, hebat.  Ibu selalu membanggakanmu di depan orang, nduk. Apalagi ketika kamu sering juara olahraga, ibumu selalu bilang ke pasien-pasiennya, kalau ibumu bangga punya anak sepertimu. Ibumu selalu mikirin kamu, karena kamu anak perempuan satu-satunya, tapi ibumu ingin kamu mandiri tanpa harus memanjakanmu. Ibumu selalu berusaha membagi waktu untukmu.  ” Kata ayah dengan suara parau. Aku tahu ayah sedang menahan tangis.
nggeh8 yah.. maaf..aku menyesal telah berburuk sangka pada ibu.” katamu sambil menangis.
*flasback off*

***

“Ibu, nyuwun ngampunten9 ya... aku gak pernah ngertiin ibu, selalu salah paham sama ibu. Matur sembah nuwun10 karena sudah melahirkan, membesarkan, dan mendidik aku menjadi perempuan yang mandiri dan kuat. Matur sembah nuwun karena telah memberi kasih sayang yang tulus buat aku dan adik-adikku dengan cara yang berbeda. Dan Matur sembah nuwun ibu bangga dengan apa yang sudah aku lakukan tanpa aku ketahui. Aku nyuwun ngampunten-ne bu karena selalu iri, ibu lebih memilih pekerjaan ibu ketimbang aku. Tapi aku benar-benar bangga dengan pekerjaan yang ibu tekuni. Ibu seperti tokoh idolaku.. ibu pasti tahu sapa tokoh idolaku.. ya.. power rangers11!! Ibu seperti power rangers, sang penyelamat. Ibu penyelamat pasien-pasien yang tergolek lemah. Aku bodoh karena baru menyadari sekarang. Aku bodoh karena tak pernah peduli tentang ibu... nyuwun ngampunten-ne bu.. nyuwun ngampunten-ne bu.. ” Kataku tanpa terasa air mataku mengalir di pipi.
“ Aku ingin ibu bangun dan sehat. Aku kangen masakan ibu. Kangen memo dari ibu. Kangen banget..aku sayang ibu” kataku sambil menangis tersedu-sedu. Aku benar-benar merindukan sosok ibuku ini...jarang berkomunikasi, terkesan dingin dan keras, namun beliau lah yang menjadi pelindung di keluarga ini. Aku sayang ibu.
Kini aku di sampingnya yang masih tertidur, menuliskan kisah tentangku dengan beliau. Beliau yang melahirkanku. Beliau adalah koki terhebat didunia...belau dokter terhebat di dunia...beliau perawat terhebat didunia.. beliau pelindung terbaik sedunia...beliau adalah ibuku.

Keterangan:
Nduk1:sapaan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa
njenengan2:panggilan paling halus untuk orang yang lebih tua
podho3:artinya sama.
iyo ta, Yah4:begitukah, Yah?
Koyok-e5:sepertinya
gak6:tidak
Sing7:yang (kata penggubung)
nggeh8:ucapan paling halus dalam bahasa Jawa  yang artinya iya
nyuwun ngampunten9:ucapan permintaan maaf  paling halus dalam bahasa Jawa
Matur sembah nuwun10: ucapan terima kasih yang paling halus dalam bahasa Jawa
power rangers11:merupakan salah satu tokoh idola dalam film anak-anak

BY: Adlin Yunila Sari

Ranger Lelang

Namaku adalah Adlin Yunila Sari, salah satu peserta SM-3T angkatan 2012/2013 yang ditempatkan di Maluku Barat Daya atau di singkat menjadi MBD. Tepatnya di pulau Sermata, Kecamataan Mdona Hyera, desa Lelang. Mendengar desa Lelang, seperti kata “pelelangan” di toko penggadaian. Namun yang paling mengejutkan adalah tidak ada sinyal disana alhasil handpone-ku menjadi gantungan kunci selama satu tahun, karena memang ditugaskan selama setahun. Selain itu Lelang dengan Surabaya berbeda jauh, bagaikan bumi dan langit. Bagaimana tidak, di Surabaya fasilitas ada dan lengkap, sedangkan di Lelang serba sangat amat terbatas. Bukannya berlebihan tapi memang itu yang aku alami, tidak ada signal, listrik, air terbatas kalau musim kemarau, makan seadanya, tidak ada kendaraan. Alat transportasi yang bisa pakai hanya perahu saja, karena di pulau Sermata tidak ada jalan beraspal, dan curam sehingga hanya bisa di lalui dengan jalan kaki. Itulah yang dirasakan murid-muridku ketika berangkat kesekolah.
Mereka harus berjalan kaki, setapak demi setapak tanpa alas kaki sambil hanya membawa satu buku tulis yang di masukkan di saku celana bagian belakang. Mereka berjalan pukul 4 pagi karena perjalanan dari rumah mereka ke sekolah sekitar 2 jam, sedangkan sekolah masuk pukul 6.30 pagi, ”hmmm, hebat!!” gumamku karena terpesona semangat belajar mereka. Beda dengan murid di Surabaya yang selalu membawa motor ataupun mobil meski sekolah mereka dekat, namun mereka seperti berlomba-lomba untuk membolos dan terlambat tersirat tidak bersemangat sekolah.
Jika di Jawa banyak Guru BK di sekolah SMP dan SMA, tapi di Lelang tidak ada, dan percayalah aku adalah guru BK di Pulau Sermata untuk pertama kalinya. Sungguh ada terbesit senang dan bangga, namun juga tersebit rasa sedih yang menjalar di hatiku, karena mereka tidak tahu tentang Bimbingan Konseling. Bahkan mereka berkata “ buat apa guru BK disini? Katong1 seng2 butuh. Yang penting guru pelajaran lain sa3. Katong ingin anak-anak di didik seperti anak-anak di Jawa!!”, sakit sekali mendengarnya namun aku tetap memamerkan senyum indahku sepertinya selama aku kuliah di Unesa keribadianku dibentuk dengan baik, sehingga aku tahu bagaimana bersikap yang baik depan masyarakat.
“Bapak ibu, kalau memang ingin anak-anak di didik seperti anak-anak di Jawa, maka tidak hanya guru mata pelajaran saja mengajarkan anak-anak disini. Guru BK-pun juga punya andil besar disini, yaitu membina anak-anak disini menjadi lebih baik lagi seperti anak-anak di jawa. Berilah saya kesempatan untuk membina anak-anak kalian selama satahun disini”, ucapku dengan senyuman yang tulus.
Mulai hari itulah kegiatanku sebagai Guru BK di SMPN 2 Mdona Hyera di mulai. Anak-anak terlambat, membolos dan nakal aku tangani. Tidak hanya di SMP saja, di SMAN 1 Mdona Hyera aku membina siswa siswi dsana sebagai guru BK, hal ini dikarenakan hanya ada kepala sekolah, maklum sekolah itu baru di buka setahun yang lalu dan siswanya hanya sepuluh orang saja, sedangkan siswa di SMP hanya dua puluh orang saja, miris bukan. Tetapi aku tidak pantang menyerah. Aku pelajari data-data murid di SMP dan SMA ternyata banyak siswa yang tidak masuk sekolah berbulan-bulan tanpa di ketahui alasan mereka apa, dan itu sudah hal yang wajar bagi mereka namun tidak tidak bagiku. Setelah aku bertanya kepada kepala sekolah, ternyata mereka memang sengaja membolos untuk bekerja. Anak seusia mereka harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga padahal sekolah disana gratis. Sehingga aku berpikir melakukan konseling dengan wali murid.
Akhirnya dengan bantuan kepala sekolah, konseling bisa di laksanakan. Berbagai pendapat dan alasan dari wali murid aku dengarkan dengan baik, seolah-oleh mereka curhat tentang perekonomian rumah tangga mereka dan aku selalu memamerkan senyumku serta menjadi pendengar setia.  Akupun menarik kesimpulan bahwa mereka mengganggap hidup itu bekerja untuk mencari uang sedangkan sekolah hanya untuk mengajari mereka cara berhitung dan membaca setelah itu mereka tidak memperbolehkan anak-anak mereka sekolah walaupun sekolah gratis.
Aku yang sedari tadi diam mendengarkan dan tersenyum manis mulai berbicara, memberikan penjelasan bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan depan anak-anak mereka, bahkan dengan pendidikan itu pula anak-anak mereka mendapat pekerjaan yang layak dan lebih baik dari pada bekerja cari ikan di laut ataupun mengasarkan kelapa agar dijual dan mendapatkan uang untuk perut mereka. Mereka mendengarkan setiap perkataanku dengan baik dan tak jarang mereka sambil menganggukkan kepala pertanda mereka mengerti ucapanku. Setelah konseling itu wali murid memperbolehkan anak-anaknya sekolah. Yang awalnya hanya 20 orang sekarang menjadi 57 orang. Sedangkan yang SMA yang awalnya 10 orang menjadi 20 orang. Meski tidak sebanyak murid yang di Jawa, paling tidak ada peningkatan dan inilah awal mulainya pengabdianku.
Selain menjadi guru BK di SMA dan SMP, aku juga mengajar mata pelajaran yang lain, seperti mulok, senibudaya, fisika, sosiologi, ppkn, dan biologi. Jabatan wakasek kesiswaan juga diberikan kepada mengingat aku adalah guru BK, tapi aku tetap menjalankan tugasku menjadi guru BK.
Ketika aku mengajar di SMA, aku sering menggunakan bimbingan kelompok untuk memberikan pelajaran kecuali fisika biasanya aku menggunakan bimbingan klasikal karena fisika adalah IPA dan berkutat pada angka. Bila di masyarakat aku memberikan pengarahan ketika peringatan hari Kartini. Memberikan pengarahan dan pengertian tentang kewajiban dan hak seorang wanita.
Tak jarang orang tua murid datang kerumah dinasku untuk sekedar curhat mengenai masalah anak-anaknya. Konsultasi tentang perkembangan anaknya, bagaimana anaknya di sekolah, mereka juga sering mengeluh bila anaknya nakal. Tapi itu semua aku balas dengan senyuman dan memberikan pengertian serta arahan untuk anaknya, di samping itu aku sangat senang karena usahaku tidak sia-sia selama ini. Yang mulanya orang tua tidak menghendaki adanya guru BK, yang apatis pada masa depan anaknya,dan hanya memikirkan materi, sekarang mulai berubah baik sedikit demi sedikit. Mereka sekarang lebih terbuka dengan adanya guru BK, lebih mementingkan pendidikan.
Dari sekian peristiwa yang aku ceritakan ada satu peristiwa yang sampai sekarang membekas di hatiku. Seorang anak dari desa sebelah, desa Batugajah, jaraknya 3 jam dari desa Lelang, dan itu harus ditempuh dengan jalan kaki. Dia tidak pernah terlambat sekolah, dia selalu rajin dan mendengarkan guru mengajar. Namun suatu hari dia tidak masuk sekolah seminggu, akhirnya aku melakukan kunjungan rumah atau home visit. Perjalanan begitu berat, berkali-kali aku istirahat karena selama di Jawa aku hampir tak pernah alan kaki, selalu naik motor kesayanganku, tapi di Maluku aku harus berjalan dengan waktu hampir  4 jam. Sesampainya disana, aku melihat dia sedang angkat air dari pegunungan. Ternyata dia tidak masuk sekolah karena harus merawat ibunya yang sedang sakit. Parahnya lagi dia tidak punya uang untuk berobat. Mendengar penjelasan dari dia, aku terenyuh, hingga aku putuskan untuk membiayai segala pengobatan ibunya sehingga dia bisa fokus belajar lagi, karena dia sekarang Kelas XII.

Hampir setahun aku di Maluku, Tepatnya di desa Lelang, beberapa hari lagi kami pulang ke Jawa karena masa penugasan kami telah selesai. Kami bersiap-siap membereskan barang-barang kami. Kamipun memberikan kenang-kenangan untuk anak-anak didik kami sebelum kami pergi jauh.
Hari itu tiba, untuk pulang ke Jawa, dengan naik kapal ke Kupang, dan naik pesawat ke Surabaya.  Kami pamit pada masyarakat disana, dan murid-murid kami tercinta. Namun ada seorang anak tengah berlari dengan nafas tersengal-sengal datang kepadaku. Akupun dengan senyum manisku menatapnya.

Grep..
Dia memelukku, baju bagian pundakku basah. Apakah dia menangis?
“Loi, ose4 pardede5?”, ucapku sambil mengelus rambutnya yang kriting dan panjang. Loi, itu nama panggilanku untuknya, sebenarnya nama lengkapnya adalah Novita Loimalitna.
“ Bu, jang6 pigi7. Beta8 seng ingin di ajar oleh guru lain.”, ucapnya sambil terisak. Hatiku ngilu mendengarnya.
Ose harus jadi anak yang pintar, nak. Raih cita-citamu sayang. Jadilah dokter yang baik. Jangan pernah berhenti belajar ya, Loi.”, ucapku dengan nada parau, karena berusaha menahan air mata.
Beta pasti turuti kata ibu, beta janji bu. Asal ibu seng usah balik lai9 ke Jawa. Nanti siapa yang nasehati beta lai bu? Siapa yang negur Beta kalau salah? Kalau bu Adlin balik ke Jawa.” Loi menangis sesenggukan. ‘oh Tuhan, sakitnya hati ini mendengar anak didikku menangis seperti ini.’ Gumamku dalam hati.
“Loi, seng bisa. Bu guru harus pulang karena masa tugas ibu guru dan bapak guru semua berakhir. Nanti ada pengganti ibu kok. Jadi Loi tenang saja. Oleh karena itu Loi harus semangat belajar, biar bisa jadi dokter. Setelah jadi dokter, Loi ke Jawa, ke tempat ibu buktikan kalau Loi berhasil dan membuat bangga ibu.”kataku sambil berusaha untuk tersenyum dan tegar di hadapannya dan dia menjawab dengan anggukan. Setelah berpelukan lama akhirnya aku dan teman-temanku naik kapal. Ketika aku naik kapal Loi berteriak dan berkata...
“ BU ADLIN ADALAH POWER RANGERS KAMI!!!!!!!”
Aku membalasnya dengan lambaian tangan mengarah padanya, tanpa terasa air mata yang kutahan dari kemarin akhirnya meluncur deras dipipiku.
“ kamu memang ranger Lelang, Dlin. Satu-satunya ranger BK di Lelang.” Kata salah satu temanku dengan senyuman tulusnya dan disusul teman-teman yang lain memeluk aku. Aku hanya bisa berdoa semoga murid-muridku menjadi generasi yang baik dan bisa menyaingi murid-murid di Jawa... amiin.


KETERANGAN:
Katong1           : bahasa maluku yang artinya kami
seng2                : bahasa maluku yang artinya tidak
sa3                   : bahasa maluku yang artinya saja
ose4                  : bahasa maluku yang artinya kamu
pardede5          : bahasa maluku yang artinya menangis
jang6                : bahasa maluku yang artinya jangan
 pigi7                : bahasa maluku yang artinya pergi
Beta8                : bahasa maluku yang artinya aku/saya
lai9                   : bahasa maluku yang artinya lagi

BY : Adlin yunila sari