Aku termenung duduk di
kursi kamar yang berdinding putih dan berbau obat-obatan, ciri khas untuk kamar
rumah sakit tempat dimana beliau bekerja selama selama lebih dari 30 tahun.
Sambil membuka laptop di hadapanku dan menemani seseorang yang telah
melahirkanku sedang tertidur karena sakit akibat kecelakaan di kantornya.
Mengingat ada tugas literasi untuk menceritakan tentang kisah seorang ibu.
Awalnya aku bingung mulai dari mana menulisnya, hingga aku putuskan untuk
menceritakan ibuku. Ya, ibu kandungku...
*flasback
on*
Hubunganku dengan
beliau tidak seperti teman-temanku yang selalu indah, namun aku juga tidak
mengatakan hubunganku dengan beliau buruk. Malah kata mereka terlihat aneh
awalnya. Bagaimana tidak, dulu ketika beliau kerja berangkat dari rumah aku hampir
tak pernah melihat ibu, yang selalu ketemui hanya memo yang menempel di kulkas
berisi:
“Nduk1,
ibu udah bikin sarapan buat pean
sama
adek-adekmu, Ibu pulang malem.”
Memo
itu yang selalu kulihat tiap pagi hari sejak aku SMA. Begitu juga malam hari,
aku tak pernah kuat menahan kantukku untuk melihat beliau datang ke rumah.
Hmm... agak miris memang, ibu berangkat kerja pagi sebelum aku bangun, ibu juga
pulang malam ketika aku dan kedua adikku tertidur. Hanya ayah saja yang selalu
bertemu dengan ibu, mengantarkan ibu kerja sebelum ayah ke kantor, dan menjemput
ibu pulang kerja. Ayah sangat menyayangi ibu dan anak-anknya meski ayah
mendidik kami keras dan berusaha meluangkan waktu untuk kami bertiga. Sedangkan
ibu, sangat susah... karena pekerjaan ibu yang menuntut ibu menunaikan
kewajibannya sebagai kepala perawat di salah satu rumah sakit swasta Surabaya.
Meski aku jarang sekali bertemu dengan ibu, tapi aku
selalu berusaha menghubunginya lewat telepon ataupun SMS, namun jarang sekali
di balas. Kalaupun ibu SMS aku itupun hanya singkat saja. Seperti : “Nduk gimana skripsinya??” atau “udah sampai mana skrisinya?”.
Dan aku membalas smsnya
panjang kali lebar, meski ibu hanya bertanya satu hal saja. Hmmm... aku
merindukannya...merindukan sosoknya yang dulu selalu menemaniku ketika belajar,
makan, sakit, dan senang..merindukan ibu yang dulu ketika aku masih kecil.
Namun aku hanya bergumam saja dalam hati, tak pernah sekalipun aku mengeluh
padanya, takut menyakiti beliau. Karena ayah selalu mengajarkan aku dan
adik-adikku untuk menghargai dan menghormati ibu. Dan itu selalu aku tancapkan
di hatiku...selalu..
Ketika
aku menang lomba pencak silat se-Jawa Timur dengan gelar juara satu. Aku
berharap orang tua datang melihat, tapi ternyata tidak. Yang mengecewakan
sekali jawaban dari alasannya adalah karena pekerjaan ibu yang tidak bisa di
tinggalkan. Hmmm...miris sekali.. itu pun tidak sekali saja, tapi selalu.
Hingga aku tak pernah lagi minta dan berharapkan kedatangan mereka, terutama
ibu. Bukan berarti aku membenci beliau... sama sekali tidak, hanya tersebesit
kekecewaan yang selalu hinggap di hatiku dan untuk kesekian kalinya aku
memendamnya. Karena aku sayang ibu.
*flasback
off*
***
Aku masih duduk
mengetik kisahku dan beliau sambil sekali-kali melihat beliau. Beliau yang
sudah tua. Hhhmmm...
“ Ibu, njenengan2 mulai beruban,
sudah mulai berkerut.. tapi njenengan
masih saja mikirin pasien. Apa ibu tidak rindu aku? Rindu adek-adek? Ibu
cepatlah bangun. Ibu buat aku kawatir.aku sayang ibu”, ucapku dengan suara
parau lirih.
Aku hanya bisa
mengelus-elus punggung tanggannya sambil mengingat kejadian peristiwa-peristiwa
yang lalu.
***
*flasback on*
Setelah aku lulus
kuliah, aku memutuskan untuk ikut SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Tertinggal,
Terluar dan Terdepan). Restu orang tua dan keluarga besar sudah aku kantongi.
Namun ketika orang tua mengantarkan aku ke bandara ada terbersit rasa sedih,
sakit, dan terluka.
Bagaimana tidak, orang tuaku tidak bisa
menunggu dan menemani di sana. Bahkan mereka tidak memarkirkan mobilnya, justru
langsung tancap gas. Aku hanya melongo dan terdiam. Rasa iri berkecamuk di hatiku
ketika melihat teman-teman seperjuanganku di temani keluarga mereka dengan
tangis haru, sedangkan aku??? Aku hanya diam saja, berusaha mengontrol rasa
yang berkecamuk di hatiku.
***
Selama setahun di
tempat tugas, aku selalu berusaha menghubungi keluargaku yang di Jawa. Meski
tidak ada sinyal tapi masih ada telpon satelit dengan harga selangit setiap
menit. Dan setiap aku menghubungi keluarga, hanya satu anggota keluarga yang
selalu menitipkan salam pada aku, yaitu ibu. Aku tanya kenapa tidak menyampaikan
sendiri, tapi alasannya sama ‘SIBUK’. Dan lagi-lagi aku hanya bisa diam dan
menitikkan air mata... aku rindu ibu... tapi beliau sebaliknya. Selama di sana,
pertanyaan yang ada di benakku ‘apakah beliau rindu aku? Kawatir denganku? ‘ Tapi
aku selalu menepisnya.
***
Setelah setahun aku berada
di daerah 3T, akhirnya aku pulang bersama teman-teman dan memang masa tugas
kami selesai. Sesampainya di Jawa, puji syukur kupanjatkan. Dan lebih
membahagiakan lagi keluargaku datang semua, terutama ibu. Aku langsung
merebahkan tubuh dipelukan ibu, menangis seperti anak kecil, dan mengatakan “
aku sayang ibu”.. dan ibu membalasnya dengan senyum tanpa air mata, “ podho3 nduk...podho..”
***
Ketika aku PPL, ayah
menelpon dan berkata ibu dirawat karena terpeleset di kamar mandi tempat beliau
bekerja. Tapi aku baru bisa kesana setelah pulang PPL. Setibanya di sana, aku
bertemu ayah dan mendapati ibu tidur di ranjang putih dan tangan beliau dengan infus di tangannya.
“Aku jarang ketemu
ibu...sekali ketemu malah pas ibu sakit. Hmm..ibu sih terlalu cinta pekerjaan
ketimbang aku yah”. Kataku kesal sambil bersandar di kursi sebelah ranjang ibu
dan melihat raut wajah beliau yang pucat.
“hmmm...ibumu sayang
banget sama kamu nduk. Dari dulu sampai sekarang...dan ibu kerja karena demi
kamu dan adik-adikmu”. Kata ayahku yang duduk di sampingku.
“iyo ta, yah4?? Kok ibu gak pernah cari aku pas aku di
daerah 3T?? Ibu gak pernah mau ngbrol ketika aku telpon?ibu selalu menghindar
kalau aku mencarinya. Kalaupun dirumah juga selalu ninggalin pesan, itupun masih
saja seperti itu meski aku sudah pulang dari Maluku. Koyok-e5 ibu emang gak peduli dan gak sayang aku dari
dulu, yah.” Kataku tambah kesal mengungkapkan isi hati yang selama ini
terpendam.
“Kan kamu tahu ibu
harus urus pasien... lagipula ibu peduli sama kamu, nduk. Ibu masakin sarapan
buat anak-anaknya pagi buta sebelum berangkat kerja. Ibu sering tanya ke ayah
tentang anak-anaknya, terutama kamu. Karena kamu anak pertama. Anak yang di
jagokan ibumu. Ibumu selalu perhatian.”
Deg,... aku terdiam mendengar
perkataan ayah.
“Sewaktu kamu skripsi,
ibu kawatir sama keadaan kamu yang jarang tidur mengerjakan skripsimu. Ibumu
juga selalu membelamu ketika ayah kecewa sama kamu gara-gara skripsimu belum
selesai. Ibumu selalu bilang ‘Nila gak6
malas, Yah, skripsinya emang gak
sembarangan. Sing7 sabar
to, Yah.’ Ibumu selalu dukung skripsimu nduk.”
“Setelah kami ngantarin
kamu kebandara, ibumu gak menemani kamu dibandara dan langsung pulang. Kamu tau
kenapa,nduk?”
Tanya ayah, dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepala.
“ibumu nahan air mata
selama ini, terutama keputusanmu yang ikut SM3T. Ibu sebenarnya gak rela kamu
pergi, tapi ibu gak nunjukin tangisnya ke kamu karena takut kamu ikut sedih.
Lalu kenapa selama kamu menghubungi ibumu tapi ibu hanya titip salam ke kamu
melalui ayah, karena nanti ibumu pasti menangis dan kamu nanti kepikiran di sana.
Ibumu itu selalu kangen kamu, ibumu selama setahun nangisi kamu dan doakan kamu,
supaya kamu kuat dan tegar disana. Ibumu selalu cari di internet tentang kabar
atau berita di tempat kamu mengabdi.”
Aku hanya bisa terdiam
memegang tangan ibu dan menangis tanpa bersuara.
“ibumu sayang kamu
nduk... ibumu rindu kamu nduk.. makanya ibu begitu karena tahu dan percaya anak
perempuannya kuat, mandiri, hebat. Ibu
selalu membanggakanmu di depan orang, nduk. Apalagi ketika kamu sering juara
olahraga, ibumu selalu bilang ke pasien-pasiennya, kalau ibumu bangga punya
anak sepertimu. Ibumu selalu mikirin kamu, karena kamu anak perempuan
satu-satunya, tapi ibumu ingin kamu mandiri tanpa harus memanjakanmu. Ibumu
selalu berusaha membagi waktu untukmu. ”
Kata ayah dengan suara parau. Aku tahu ayah sedang menahan tangis.
“ nggeh8 yah.. maaf..aku menyesal telah berburuk sangka
pada ibu.” katamu sambil menangis.
*flasback off*
***
“Ibu, nyuwun ngampunten9 ya... aku gak pernah ngertiin ibu, selalu
salah paham sama ibu. Matur sembah nuwun10
karena sudah melahirkan, membesarkan, dan mendidik aku menjadi perempuan yang
mandiri dan kuat. Matur sembah nuwun karena
telah memberi kasih sayang yang tulus buat aku dan adik-adikku dengan cara yang
berbeda. Dan Matur sembah nuwun ibu
bangga dengan apa yang sudah aku lakukan tanpa aku ketahui. Aku nyuwun ngampunten-ne bu karena selalu
iri, ibu lebih memilih pekerjaan ibu ketimbang aku. Tapi aku benar-benar bangga
dengan pekerjaan yang ibu tekuni. Ibu seperti tokoh idolaku.. ibu pasti tahu
sapa tokoh idolaku.. ya.. power rangers11!!
Ibu seperti power rangers, sang penyelamat. Ibu penyelamat pasien-pasien yang
tergolek lemah. Aku bodoh karena baru menyadari sekarang. Aku bodoh karena tak
pernah peduli tentang ibu... nyuwun ngampunten-ne
bu.. nyuwun ngampunten-ne bu.. ”
Kataku tanpa terasa air mataku mengalir di pipi.
“ Aku ingin ibu bangun
dan sehat. Aku kangen masakan ibu. Kangen memo dari ibu. Kangen banget..aku
sayang ibu” kataku sambil menangis tersedu-sedu. Aku benar-benar merindukan
sosok ibuku ini...jarang berkomunikasi, terkesan dingin dan keras, namun beliau
lah yang menjadi pelindung di keluarga ini. Aku sayang ibu.
Kini aku di sampingnya yang masih tertidur,
menuliskan kisah tentangku dengan beliau. Beliau yang melahirkanku. Beliau
adalah koki terhebat didunia...belau dokter terhebat di dunia...beliau perawat
terhebat didunia.. beliau pelindung terbaik sedunia...beliau adalah ibuku.
Keterangan:
Nduk1:sapaan untuk anak perempuan
dalam bahasa Jawa
njenengan2:panggilan
paling halus untuk orang yang lebih tua
podho3:artinya
sama.
iyo
ta, Yah4:begitukah, Yah?
Koyok-e5:sepertinya
gak6:tidak
Sing7:yang (kata penggubung)
nggeh8:ucapan
paling halus dalam bahasa Jawa yang
artinya iya
nyuwun
ngampunten9:ucapan permintaan
maaf paling halus dalam bahasa Jawa
Matur
sembah nuwun10: ucapan terima kasih yang paling halus dalam bahasa
Jawa
power rangers11:merupakan salah satu
tokoh idola dalam film anak-anak
BY: Adlin Yunila Sari