Selasa, 09 Desember 2014

Menunggu Di Pohon Jambu


            Di SMPku dulu, ada pohon jambu. Buah jambu yang paling sering aku makan adalah buah yang berasal dari pohon jambu itu. Bukan karena rasanya yang lebih manis dan segar, tetapi karena pohon itu memberikan banyak kenangan indah bersama seseorang. Aku sering nongkrong di pohon, sambil melamun mengenang pengaaman-pengalaman masa-masa SMP. Ya, sama seperti yang aku akukan sekarang.
            Sejak pagi, aku sudah duduk, bersandar pada pohon jambu sambil makan buah favoritku. Aku mengamati matahari yang perlahan naik dari ufuk timur. Menikmati cahayanya yang indah tetapi menyilaukan. Yang membuat mataku bingung, aku juga menikmati bayanganku sendiri yang bersandar pada pohon jambu. Perlahan-lahan memanjang dan membentuk gambar yang unik, kemudian segera memanjang lagi, lagi, dan lagi sehingga bayanganku semakin tidak jelas bentuknya. Tak terasa sudah berjam-jam aku menikmati matahari dan bayanganku ini. Bayangan yang tadi terus memanjang, perlahan-perlahan memendek. Kembali kebentuknya yang unik tadi, lalu bentuknya menjadi tidak jelas lagi. Sekarang bayanganku tidak terlihat lagi karena tertutup bayangan pohon jambu ini. Walaupun sekarang matahari berada tepat di atas kepala, aku tidak berkeringat, bahkan merasah gerah pun tidak. Itu karena pohon jambu ini cukup rimbun untuk memayungiku.
            Hari sudah siang tetapi aku belum beranjak dari tempat itu. Aku masih duduk bersandar pada pohon jambu sambil memakan buah favoritku. Aku mulai mengenang seseorang dari masa lalu. Melati, sahabatku di SMP. Dia baru masuk di SMP ini saat aku duduk di kelas IX. dia pindah dari Jakarta, katanya sih keluarganya bosan dan penat dengan kota yang begitu padat. Melati ini orangnya supel,hanya dalam waktu satu minggu dia sudah banyak teman. Aku yang pertama kali diajak kenalan. Itu karena dia duduk disebelahku. Itu juga yang membuat aku cepat akrab dengannya. Kalo di kelas, aku sering menanyakan pelajaran padanya. Yang paling sering ada’lah sejarah, fisika, matematika dan biologi. Empat mata pelajaran ini membuatku pusing. Aku sama sekali tidak paham saat guru menerangkan. Aku mengganggap mereka itu alien dari Mars, yang berbicara bahasa planet.
            Semakin kari aku dan Melati semakin dekat. Kami sering melakukan banyak hal berdua. Tempet favorit kami untuk beraktivitas adalah pohon jambu ini. Setiap hari sepulang sekolah, kami selalu mampir ke sini. Kami belajar, mengerjakan PR, bercanda dan saling bercerita tentang banyak hal. Misalnya tentang teman-teman sekelas, tentang guru dan masalah-masalah lain yang menarik bagi kami. Allen yang paling sering menjadi bahan pembicaraannya. Dia pacar Melati yang tinggal di Jakarta. Melati selalu menceritakan kisah cintanya dengan Allen dan masalah-masalahnya. Aku berfikir betapa bahagianya orang itu mempunyai pacar seperti Melati. Sampai sekarang aku masih belum punya pacar karena satu-satunya wanita yang ada di hatiku hanya Melati. Dia tidak pernah tahu isi hatiku karena aku tidak pernah mengatakannya pada siapapun, kecuali pada pohon jambu ini. Karena dihati Melati hanya ada Allen, pasti aku ditolak mentah-mentah kalau aku menyatakan perasaanku. Seperti buah jambu yang ada ulatnya, pasti langsung dimuntahkan.aku juga takut persahabatan kami putus gara-gara perasaanku padanya. Sampai sekarang perasaan itu masih ada tetapi hanya diam di hatiku.
            Setelah lulus SMP, Melati kembali ke Jakarta. Menurut orang tuanya hidup di Jakarta lebih nyaman. Melati juga ingin kembali ke Jakarta karena dia rindu pada Allen. Dia ingin hubungannya dengan Allen membaik lagi. Allen sempat ingin putus dengan Melati karena tidak tahan pacaran jarak jauh. Saat dia pergi, aku hanya bias meneteskan air mata tanpa mengucapkan selamat tinggal. Aku menangis di bawah pohon jambu ini. Banyak anak yang mengerumuniku sambil meringis tetapi aku tidak malu, karena air mata ini bukan milik perempuan dan aku memang benar-benar sedih saat itu. Di bangku SMA, aku semakin jauh dangan Melati, SMS-ku jarang dibalas. Kalau aku menelponnya, dia selalu sedang pergi keluar dengan Allen. Kalaupun diangkat, pasti cepat ditutup dengan alas an yang sama. “Yah, Allen sudah menjemputku. Sorry ya…”. Sejak Melati pergi, aku tidak hanya kehilangan sahabat. Tidak ada lagi yang membantu dan membuatku semangat belajar. Nilai-nilaiku menurun bahakan aku hamper tidak naik kelas.
            Aku mulai berusaha melupakan Melati di kelas XI karena mungkin dia sudah melupakan aku. Aku berhenti menghubunginya, baik lewat telpon atau SMS. Tetapi di tengah usahaku melupakan Melati, muncul hal yang mengejutkan. Aku menerima surat dari Melati.
            “Maaf, aku tidak pernah menghubungimu lagi. Allen melarangku, dia cemburu dan menyuruhku melupakanmu. Kamu tahukan, aku takut kehilangan dia. Aku tidak punya pilihan lain. Tetapi aku sungguh menyesal karena sekarang Allen bukan Allen yang dulu kukenal. Dia menjadi orang lain, kata-katanya kasar terhadapku. Dia begitu emosional dan mengekangku. Yang lebih parah lagi, dia selingkuh! Tetapi saat aku minta putus, dia selalu menolak. Aku mencobamenghindarinya tetapi dia dia terus mengejarku. Kupikir dia berubah tetapi dia terus mengulangi perselingkuhannya dengan orang yang sama! Aku tidak tahan lagi, di sini tidak ada siapa-siapa. Ayah bundaku ke luar megeri mengurus perusahaannya. Aku ingin ke Yogya lagi.aku merasa aman di dekatmu, aku sadar kalau kamu begitu istimewa untukku. Aku menyayangimu lebih dari sahabat. Mungkin kamu tidak percaya tetapi ini jujur dari dalam hatiku.“
            Bagaimana aku tidak terkejut? Saat membaca surat itu perasaanku campur aduk, senang, bingung, malu bercampur menjadi satu. Tetapi bagian yang paling aneh dari surat itu adalah yang ini.
            “Tolong kamu jangan hubungi aku lewat SMS, telepon, e-mail atau apapun kecuali surat! Hanya itu yang tidak bisa di ketahui Allen tetapi aku tidak bisa janji membelas suratmu dengan cepat. Aku akan ke Yogya tahun depan. Tunggulah aku di tempat kenangan kita. Aku mengharapkanmu di sana. Aku berjanji akan datang ke tempat kenangan itu tepat tahun depan jadi jangan kecewakan aku.“
            Ya, itu yang membuatku duduk di sini sekarang. Di surat itu jelas tertulis tanggal suratnya, 19 Januari 2006, setahun dari tanggal itu berarti 19 Januari 2007 tepat hari ini. Berkali-kali aku membalas suratnya tetapi tidak pernah dibalas. Sampai sekarang aku belum mengerti, Mengapa Melati tidak membalas satupun surat-suratku. Tetapi untukku, cukup dengan surat itu saja, aku bisa memastikan bahwa dia akan datang ke sini.
            Tak terasa, aku menunggu begitu lama. Hari sudah mulai gelap tetapi dia belum datang, itu tidak masalah bagiku karena hari ini baru akan berakhir eman jam lagi. Tempat ini mulai sepi, yang terdengar hanya ada suara nafasku dan juara jambu yang kugigit. Awan mendung yang hitam mulai meneteskan gerimis. Daun-daun pada pohon jambu ini tidak cukup lebat untuk memayungiku. Perlahan-lahan tubuhku dibasahi tetesan air hujan. Aku kedinginan karena hari juga sudah semakin gelap. Tubuhku gemetas, gigiku menggertak tak terkendali tetapi aku masih belum berfikir untuk pulang.
            Hati kecilku berkata “Melati pasti Datang! Dia selalu menepati janjinya.“ Aku terus menunggu di temani lampu minyak yang remang juga beberapa ekor kunang-kunang. Sempat terfikir untuk beranjak dari tempat ini tetapi aku berfikir betapa kecewanya Melati jika tidak ada aku di sini saat dia datang.
            Waktu terus berjalan, malam bertanbah malam. Angin malam semakin dingin hingga terasa sampai ke tulang. Tanpa terasa 19 Januari telah berlalu, detik demi detik yang kulalui di pohon jambu ini seakan percuma. Melati tidak datang, dia tidak menepati janjinya. Tetapi di lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih ingin menunggu di pohon jambu ini.
            Karena aku yakin, kalau memang Melati benar-benar penting, aku harus menunggu dengan keyakinan, kepercayaan, kesabaran dan pengharapan. Karena sesuatu yang indah memang layak untuk di tunggu. Dan dengan matahari yang baru, aku kembali menunggu di pohon jambu.

by adleenrocker 

1 komentar: