Minggu, 16 November 2014

My Lady Ranger

Aku termenung duduk di kursi kamar yang berdinding putih dan berbau obat-obatan, ciri khas untuk kamar rumah sakit tempat dimana beliau bekerja selama selama lebih dari 30 tahun. Sambil membuka laptop di hadapanku dan menemani seseorang yang telah melahirkanku sedang tertidur karena sakit akibat kecelakaan di kantornya. Mengingat ada tugas literasi untuk menceritakan tentang kisah seorang ibu. Awalnya aku bingung mulai dari mana menulisnya, hingga aku putuskan untuk menceritakan ibuku. Ya, ibu kandungku...

*flasback on*
Hubunganku dengan beliau tidak seperti teman-temanku yang selalu indah, namun aku juga tidak mengatakan hubunganku dengan beliau buruk. Malah kata mereka terlihat aneh awalnya. Bagaimana tidak, dulu ketika beliau kerja berangkat dari rumah aku hampir tak pernah melihat ibu, yang selalu ketemui hanya memo yang menempel di kulkas berisi:
“Nduk1, ibu udah bikin sarapan buat pean
sama adek-adekmu, Ibu pulang malem.”
            Memo itu yang selalu kulihat tiap pagi hari sejak aku SMA. Begitu juga malam hari, aku tak pernah kuat menahan kantukku untuk melihat beliau datang ke rumah. Hmm... agak miris memang, ibu berangkat kerja pagi sebelum aku bangun, ibu juga pulang malam ketika aku dan kedua adikku tertidur. Hanya ayah saja yang selalu bertemu dengan ibu, mengantarkan ibu kerja sebelum ayah ke kantor, dan menjemput ibu pulang kerja. Ayah sangat menyayangi ibu dan anak-anknya meski ayah mendidik kami keras dan berusaha meluangkan waktu untuk kami bertiga. Sedangkan ibu, sangat susah... karena pekerjaan ibu yang menuntut ibu menunaikan kewajibannya sebagai kepala perawat di salah satu rumah sakit swasta Surabaya.
            Meski aku jarang sekali bertemu dengan ibu, tapi aku selalu berusaha menghubunginya lewat telepon ataupun SMS, namun jarang sekali di balas. Kalaupun ibu SMS aku itupun hanya singkat saja. Seperti : “Nduk gimana skripsinya??” atau “udah sampai mana skrisinya?”.
Dan aku membalas smsnya panjang kali lebar, meski ibu hanya bertanya satu hal saja. Hmmm... aku merindukannya...merindukan sosoknya yang dulu selalu menemaniku ketika belajar, makan, sakit, dan senang..merindukan ibu yang dulu ketika aku masih kecil. Namun aku hanya bergumam saja dalam hati, tak pernah sekalipun aku mengeluh padanya, takut menyakiti beliau. Karena ayah selalu mengajarkan aku dan adik-adikku untuk menghargai dan menghormati ibu. Dan itu selalu aku tancapkan di hatiku...selalu..
            Ketika aku menang lomba pencak silat se-Jawa Timur dengan gelar juara satu. Aku berharap orang tua datang melihat, tapi ternyata tidak. Yang mengecewakan sekali jawaban dari alasannya adalah karena pekerjaan ibu yang tidak bisa di tinggalkan. Hmmm...miris sekali.. itu pun tidak sekali saja, tapi selalu. Hingga aku tak pernah lagi minta dan berharapkan kedatangan mereka, terutama ibu. Bukan berarti aku membenci beliau... sama sekali tidak, hanya tersebesit kekecewaan yang selalu hinggap di hatiku dan untuk kesekian kalinya aku memendamnya. Karena aku sayang ibu.
*flasback off*

***

Aku masih duduk mengetik kisahku dan beliau sambil sekali-kali melihat beliau. Beliau yang sudah tua. Hhhmmm...
“ Ibu, njenengan2 mulai beruban, sudah mulai berkerut.. tapi njenengan masih saja mikirin pasien. Apa ibu tidak rindu aku? Rindu adek-adek? Ibu cepatlah bangun. Ibu buat aku kawatir.aku sayang ibu”, ucapku dengan suara parau lirih.
Aku hanya bisa mengelus-elus punggung tanggannya sambil mengingat kejadian peristiwa-peristiwa yang lalu.

***
*flasback on*
Setelah aku lulus kuliah, aku memutuskan untuk ikut SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Tertinggal, Terluar dan Terdepan). Restu orang tua dan keluarga besar sudah aku kantongi. Namun ketika orang tua mengantarkan aku ke bandara ada terbersit rasa sedih, sakit, dan terluka.
 Bagaimana tidak, orang tuaku tidak bisa menunggu dan menemani di sana. Bahkan mereka tidak memarkirkan mobilnya, justru langsung tancap gas. Aku hanya melongo dan terdiam. Rasa iri berkecamuk di hatiku ketika melihat teman-teman seperjuanganku di temani keluarga mereka dengan tangis haru, sedangkan aku??? Aku hanya diam saja, berusaha mengontrol rasa yang berkecamuk di hatiku.

***
Selama setahun di tempat tugas, aku selalu berusaha menghubungi keluargaku yang di Jawa. Meski tidak ada sinyal tapi masih ada telpon satelit dengan harga selangit setiap menit. Dan setiap aku menghubungi keluarga, hanya satu anggota keluarga yang selalu menitipkan salam pada aku, yaitu ibu. Aku tanya kenapa tidak menyampaikan sendiri, tapi alasannya sama ‘SIBUK’. Dan lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menitikkan air mata... aku rindu ibu... tapi beliau sebaliknya. Selama di sana, pertanyaan yang ada di benakku ‘apakah beliau rindu aku? Kawatir denganku? ‘ Tapi aku selalu menepisnya.

***

Setelah setahun aku berada di daerah 3T, akhirnya aku pulang bersama teman-teman dan memang masa tugas kami selesai. Sesampainya di Jawa, puji syukur kupanjatkan. Dan lebih membahagiakan lagi keluargaku datang semua, terutama ibu. Aku langsung merebahkan tubuh dipelukan ibu, menangis seperti anak kecil, dan mengatakan “ aku sayang ibu”.. dan ibu membalasnya dengan senyum tanpa air mata, “ podho3 nduk...podho..
***

Ketika aku PPL, ayah menelpon dan berkata ibu dirawat karena terpeleset di kamar mandi tempat beliau bekerja. Tapi aku baru bisa kesana setelah pulang PPL. Setibanya di sana, aku bertemu ayah dan mendapati ibu tidur di ranjang putih dan tangan beliau dengan  infus di tangannya.
“Aku jarang ketemu ibu...sekali ketemu malah pas ibu sakit. Hmm..ibu sih terlalu cinta pekerjaan ketimbang aku yah”. Kataku kesal sambil bersandar di kursi sebelah ranjang ibu dan melihat raut wajah beliau yang pucat.
“hmmm...ibumu sayang banget sama kamu nduk. Dari dulu sampai sekarang...dan ibu kerja karena demi kamu dan adik-adikmu”. Kata ayahku yang duduk di sampingku.
iyo ta, yah4?? Kok ibu gak pernah cari aku pas aku di daerah 3T?? Ibu gak pernah mau ngbrol ketika aku telpon?ibu selalu menghindar kalau aku mencarinya. Kalaupun dirumah juga selalu ninggalin pesan, itupun masih saja seperti itu meski aku sudah pulang dari Maluku. Koyok-e5 ibu emang gak peduli dan gak sayang aku dari dulu, yah.” Kataku tambah kesal mengungkapkan isi hati yang selama ini terpendam.
“Kan kamu tahu ibu harus urus pasien... lagipula ibu peduli sama kamu, nduk. Ibu masakin sarapan buat anak-anaknya pagi buta sebelum berangkat kerja. Ibu sering tanya ke ayah tentang anak-anaknya, terutama kamu. Karena kamu anak pertama. Anak yang di jagokan ibumu. Ibumu selalu perhatian.”
Deg,... aku terdiam mendengar perkataan ayah.
“Sewaktu kamu skripsi, ibu kawatir sama keadaan kamu yang jarang tidur mengerjakan skripsimu. Ibumu juga selalu membelamu ketika ayah kecewa sama kamu gara-gara skripsimu belum selesai. Ibumu selalu bilang ‘Nila gak6 malas, Yah, skripsinya emang gak sembarangan. Sing7 sabar to, Yah.’ Ibumu selalu dukung skripsimu nduk.”
“Setelah kami ngantarin kamu kebandara, ibumu gak menemani kamu dibandara dan langsung pulang. Kamu tau kenapa,nduk?”
 Tanya ayah, dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
“ibumu nahan air mata selama ini, terutama keputusanmu yang ikut SM3T. Ibu sebenarnya gak rela kamu pergi, tapi ibu gak nunjukin tangisnya ke kamu karena takut kamu ikut sedih. Lalu kenapa selama kamu menghubungi ibumu tapi ibu hanya titip salam ke kamu melalui ayah, karena nanti ibumu pasti menangis dan kamu nanti kepikiran di sana. Ibumu itu selalu kangen kamu, ibumu selama setahun nangisi kamu dan doakan kamu, supaya kamu kuat dan tegar disana. Ibumu selalu cari di internet tentang kabar atau berita di tempat kamu mengabdi.”

Aku hanya bisa terdiam memegang tangan ibu dan menangis tanpa bersuara.
“ibumu sayang kamu nduk... ibumu rindu kamu nduk.. makanya ibu begitu karena tahu dan percaya anak perempuannya kuat, mandiri, hebat.  Ibu selalu membanggakanmu di depan orang, nduk. Apalagi ketika kamu sering juara olahraga, ibumu selalu bilang ke pasien-pasiennya, kalau ibumu bangga punya anak sepertimu. Ibumu selalu mikirin kamu, karena kamu anak perempuan satu-satunya, tapi ibumu ingin kamu mandiri tanpa harus memanjakanmu. Ibumu selalu berusaha membagi waktu untukmu.  ” Kata ayah dengan suara parau. Aku tahu ayah sedang menahan tangis.
nggeh8 yah.. maaf..aku menyesal telah berburuk sangka pada ibu.” katamu sambil menangis.
*flasback off*

***

“Ibu, nyuwun ngampunten9 ya... aku gak pernah ngertiin ibu, selalu salah paham sama ibu. Matur sembah nuwun10 karena sudah melahirkan, membesarkan, dan mendidik aku menjadi perempuan yang mandiri dan kuat. Matur sembah nuwun karena telah memberi kasih sayang yang tulus buat aku dan adik-adikku dengan cara yang berbeda. Dan Matur sembah nuwun ibu bangga dengan apa yang sudah aku lakukan tanpa aku ketahui. Aku nyuwun ngampunten-ne bu karena selalu iri, ibu lebih memilih pekerjaan ibu ketimbang aku. Tapi aku benar-benar bangga dengan pekerjaan yang ibu tekuni. Ibu seperti tokoh idolaku.. ibu pasti tahu sapa tokoh idolaku.. ya.. power rangers11!! Ibu seperti power rangers, sang penyelamat. Ibu penyelamat pasien-pasien yang tergolek lemah. Aku bodoh karena baru menyadari sekarang. Aku bodoh karena tak pernah peduli tentang ibu... nyuwun ngampunten-ne bu.. nyuwun ngampunten-ne bu.. ” Kataku tanpa terasa air mataku mengalir di pipi.
“ Aku ingin ibu bangun dan sehat. Aku kangen masakan ibu. Kangen memo dari ibu. Kangen banget..aku sayang ibu” kataku sambil menangis tersedu-sedu. Aku benar-benar merindukan sosok ibuku ini...jarang berkomunikasi, terkesan dingin dan keras, namun beliau lah yang menjadi pelindung di keluarga ini. Aku sayang ibu.
Kini aku di sampingnya yang masih tertidur, menuliskan kisah tentangku dengan beliau. Beliau yang melahirkanku. Beliau adalah koki terhebat didunia...belau dokter terhebat di dunia...beliau perawat terhebat didunia.. beliau pelindung terbaik sedunia...beliau adalah ibuku.

Keterangan:
Nduk1:sapaan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa
njenengan2:panggilan paling halus untuk orang yang lebih tua
podho3:artinya sama.
iyo ta, Yah4:begitukah, Yah?
Koyok-e5:sepertinya
gak6:tidak
Sing7:yang (kata penggubung)
nggeh8:ucapan paling halus dalam bahasa Jawa  yang artinya iya
nyuwun ngampunten9:ucapan permintaan maaf  paling halus dalam bahasa Jawa
Matur sembah nuwun10: ucapan terima kasih yang paling halus dalam bahasa Jawa
power rangers11:merupakan salah satu tokoh idola dalam film anak-anak

BY: Adlin Yunila Sari

1 komentar: